Apa Kaitan Uang Logam Ini Dengan Saya?

Beberapa hari yang lalu saat mencari peralatan tukang di kotak perkakas, saya menemukan uang logam dengan nilai 100 rupiah ini. Karena sudah cukup lama tidak melihatnya, saya lalu mengamatinya. Saat melihat gambar Rumah Gadang yang merupakan rumah adat Minangkabau, saya merasa biasa-biasa saja, tapi saat saya membalikkan uang logam tersebut dan melihat gambar Gunungan yang biasa dipakai dalam pertunjukan wayang kulit, baru saya tertarik. Bukan dengan gambar gunungannya, tapi pada angka tahun uang ini diterbitkan oleh pemerintah melalui Bank Indonesia.

Seperti terlihat pada foto di atas yang saya beri bulatan merah, sebelah kiri tertulis angka 19 dan sebelah kanan angka 78. Pikiran saya pun menerawang ke masa 42 tahun yang lalu, sebuah kisah perjalanan hidup yang tak mungkin terlupakan.

Ya, pada tahun 1978 itulah saya datang ke Jakarta. Naik bus ANS dengan membeli tiket seharga 11 ribu rupiah, saya berangkat dari Bukittinggi tanggal 13 Maret dan sampai di Jakarta tanggal 16 Maret. Kenapa begitu lama perjalanannya, padahal sekarang berangkat pagi dari Jakarta, besok malam sudah bisa sampai di Bukittinggi. Sekarang kita sudah melewati jalan yang bagus, bahkan sebagian diantaranya sudah melewati jalan toll yang mulus. Sementara saat itu kami harus melewati jalan-jalan rusak, bahkan masih sempat naik pelayangan dua kali.

Saya tidak begitu ingat lagi dimana kami naik pelayangan yang berupa rakit kayu untuk menyeberangi sungai, karena saya memang tidak tahu kami sedang berada dimana.

Setelah sampai di Jakarta, bus masuk ke Jelambar. Sesampai di depan sebuah rumah, bus berhenti. Rupanya rumah tersebat adalah kantor perwakilan bus ANS yang saya tumpangi.

Turun dari bus, kami lalu pindah ke mobil kecil seukuran Mitsubishi L 300. Mobil inilah yang mengantar penumpang ke masing-masing alamat tujuannya di Jakarta, karena memang saat itu, setiap penumpang bus yang datang dari Sumatera, sesampainya di Jakarta akan diantar sampai ke alamat. Sehingga orang baru seperti sayapun tidak akan nyasar untuk sampai ke rumah kakak yang berada di Kampung Rawa.

Inilah seberkas kenangan saat pertama kali menjejakkan kaki di Jakarta di saat usia saya 22 tahun 3 bulan. Dan kebetulan koin yang fotonya saya pajang di atas dikeluarkan Bank Indonesia juga pada tahun yang sama, tapi beberapa bulan kemudian setelah saya menetap di ibukota negara ini.