Tiga Kali Kehilangan, Allah Selalu Menggantinya Dengan yang Lebih Baik (2)

Nokia Lumia 510 ini saya foto sesaat setelah sampai di kamar hotel Sahid Jaya, Solo. Kertas putih di sampingnya berisi pesan dari teman yang menghadiahkannya.

Kehadiran WindowsPhone Nokia Lumia 510 ini juga punya kisah tersendiri. Saat itu saya mengikuti Asean Blogger Festival di Solo bersama beberapa komunitas blogger lainnya, sementara saya mewakili Blogger Bekasi dan Blogger Reporter Indonesia. Setelah sampai di Solo saya mendapat penginapan di Hotel Sahid Jaya, bertiga dengan teman dari Surabaya dan Malang.

Acara pertama kami setelah kedatangan tersebut adalah menghadiri makan malam jamuan selamat datang dari Walikota Solo FX Rudy Hadiyatmo di Loji Gandrung. Rumah dinas yang mempunyai taman yang cukup luas di belakangnya, terasa sempit oleh kehadiran duaratusan lebih para blogger se Asean malam itu. Sebagai fotografer tentu saja saya tidak membuang kesempatan mengabadikan suasana hangat penuh persahabatan tersebut, teman baru, sahabat baru yang berbuntut panjang hingga ke sosial media, terutama FB.

Disamping memakai kamera saya juga memakai handphone Samsung Galaxy II Y, yang baru beberapa bulan saya dapatkan sebagai hadiah doorprize dari Indosat saat mengikuti launching produk baru Indosat di Bekasi. Dengan handphone tersebut saya mengupdate acara yang berlangsung melalui Facebook, sebagaimana juga saya lakukan di sepanjang jalan saat kami naik bus dari Jakarta ke Solo. 

Bergonta ganti antara kamera DSLR dan handphone, membuat saya agak sedikit repot. Hingga akhirnya saya lebih fokus hanya memakai kamera saja.

Selesai acara, kami semua kembali ke hotel dengan bus rombongan. Saat akan mengabadikan kota solo di waktu malam dari dalam bus dan menayangkannya di Facebook, baru saya menyadari kalau handphone Samsung telah tidak berada lagi di kantong celana saya. Mau kembali ke tempat acara sudah tak mungkin, karena bus sudah hampir sampai di hotel. Teman-teman yang kemudian tahu tentang hal tersebut mencoba untuk membantu, diantaranya dengan berkicau lewat twitter. Saat itu saya memang belum familiar dengan twitter, jadi saya tidak tahu bagaimana bunyi kicauan teman-teman tersebut.

Sampai di hotel saya mengambil handphone Nokia C3 yang tadinya memang sengaja saya tinggalkan di kamar, karena terlalu memberati kantong dan juga jarang di pakai sejak digantikan Samsung. Saya lalu mencari nomor handphone teman-teman yang tersimpan disana. Ketemu nomornya Maria Sitinjak, saya lalu mengirim sms mohon bantuan menanyakan kalau ada teman-teman yang menemukan handphone saya. Tidak lama kemudian Maria mengirim sms mengatakan dia sudah ngetwit ke teman-teman dan tidak ada yang menemukannya. Akhirnyapun saya mengikhlaskan kepergian handphone tersebut dari saya. Sayapun kemudian shalat isya dan dilanjutkan tidur, mempersiapkan diri untuk acara yang cukup padat besok harinya.

Esok harinya setelah sarapan di coffeeshop hotel, kami para peserta berkumpul di gedung pertemuan yang berada di belakang hotel Kusuma Sahid, tempat sebagai blogger lain menginap yang berada sekitar 200 meter dari hotel Sahid Jaya. Sampai di ruang seminar, acara belum dimulai. Saat masuk ruangan saya disapa dan kemudian ngobrol dengan teman-teman blogger Solo, yang sebelumnya baru kenal dan saling sapa di Kompasiana maupun Facebook.

Sapaan pertama yang terlontar dari teman-teman tersebut adalah “Sudah ketemu handphone-nya pak Dian?” dan pertanyaan lain seputar hilangnya handphone tersebut. Hal ini membuat saya cukup terkejut, rupanya cerita handphone saya hilang tersebut sudah jadi santapan pagi teman-teman yang sudah saling kenal dan hadir disana. Rupanya mereka mengetahui kabar tersebut dari cuitan teman-teman di twitter maupun dari obrolan sesama peserta.

Ditengah asyiknya obrolan dengan teman-teman dari Solo tersebut, salah seorang lalu menawarkan: “Pak Dian mau memakai handphone saya, saya punya cadangan satu lagi” katanya menawarkan.

“Terimakasih, mbak…” jawab saya sambil menyebutkan namanya.

“Bener lho, saya serius!” katanya menimpali sambil tetap tersenyum, sementara teman yang lain menyimak sambil menyemangati agar saya menerima tawaran tersebut.

“Benar mbak, nggak usah, terimakasih…”

“Maksa boleh nggak?” katanya lebih lanjut.

Saya merasakan sendiri, betapa pentingnya gadget bagi seorang yang aktif dalam pergaulan di media sosial. Bagi seorang blogger yang aktif, selain komputer atau laptop, satu handphone tidak cukup. Untuk merekam, baik video ataupun audio, untuk memotret dan tentu saja untuk menulis, baik itu chatting, ngetwit, instagram, whatsapp, maupun untuk mencatat setiap kegiatan untuk reportase atau review. Makanya saya menolak pemberian yang ditawarkan tersebut, karena saya menyadari, walaupun dia mempunyai dua handphone dia pasti membutuhkan keduanya. Dan saya tidak ingin mengurangi atau mengganggu kegiatannya bersosial media dengan menerima tawaran teman tersebut. maka jawaban saya:

“Benar mbak, tidak usah, terimakasih…” sambil berusaha untuk tersenyum, walau mata kepala saya melihat ada rona kekecewaan terbayang di wajahnya, hati sayapun merasa tidak nyaman menolak pemberian itu, walau saya sangat membutuhkannya. Teman-temanpun menyayangkan tindakan saya karena menolak pemberian tersebut. Tapi kata hati juga tak dapat saya abaikan, “dia juga membutuhkannya”

Suara MC yang berkumandang di ruangan, menutup obrolan kami saat itu. Diiringi rasa kecewa sang teman dan mungkin juga sikap menyayangkan teman-teman lainnya terhadap saya yang mungkin ada yang menganggap saya sombong. Saya berjalan ke tempat duduk saya, untuk mengikuti acara seminar hari itu.

Hari kedua Asean Blogger Festival 2013 saat sudah berada di tempat acara. Tidak seperti kemarinnya acara hari ini dibagi dalam beberapa classroom. Sebuah sms masuk ke Nokia C3 saya. Tertulis di sana: “Pak Dian, kalau nanti sore kembali ke hotel, harap hubungi customer service, ada titipan disana”.

Berhubung acara sudah dimulai, saya lalu menyimpan handphone tersebut di kantong celana.

Acara hari itu cukup padat, setelah selesai mengikuti seminar di dalam kelas hingga istirahat siang, acara berikutnya adalah kunjungan ke objek wisata manusia Jawa Purba di Sangiran. Pulang dari Sangiran rombongan melipir ke kawasan hutan lindung yang dilintasi Bengawan Solo. Acaranya yaitu menamam pohon dalam rangka kampanye Urban Forest untuk kawasan Jawa Tengah.

Menjelang magrib rombongan tiba di hotel. Teringat dengan SMS yang dikirim tadi pagi, saya langsung menuju resepsionis, menemui salah seorang petugas disana.
“Maaf, mas. Ada titipan buat saya?”
“Atas nama siapa, pak?”
“Dian Kelana…”

Sang petugas resepsionis lalu melihat ketempat penitipan yang berada di belakangnya. Setelah mendapatkan yang dicarinya, dia lalu menyerahkan sebuah bungkusan berwarna hijau tersebut kepada saya.
“Ini, pak…”

Setelah mengucapkan terimakasih, saya langsung menuju lift dan langsung menuju kamar. Karena azan magrib sudah berkumandang, begitu sampai di kamar saya meletakkan titipan tersebut di atas meja. Lalu segera ke kamar mandi, berwuduk dan setelah itu menunaikan shalat magrib.

Selesai shalat magrib, saya berjalan ke meja dan mengambil titipan yang diserahkan resepsionis tadi tadi, mengeluarkan dari kantong lalu membuka bungkusnya. Begitu bungkusnya terbuka, di hadapan saya hadir sebuah kotak biru bertuliskan Lumia 510. Namun sebelum melangkah lebih lanjut, saya membuka secarik kertas yang berisi pesan yang diantaranya bertuliskan “jangan bilang siapa-siapa”

Setelah membaca pesannya, saya lalu mengambil dus biru yang berisi handphone tersebut. Dada saya berdebar lebih kencang dari sebelumnya. Saya mengamati semua sisi dus biru tersebut, memeriksa apakah segelnya sudah rusak, soalnya diantara pesan yang tertulis di kertas tadi si pengirim mengatakan kalau handphone tersebut bekas.

Selesai memeriksa, karena semua segelnya masih utuh, saya memastikan kalau handphone tersebut masih baru. Bukan bekas sebagaimana yang dikatakannya. Namun sebelum handphone tersebut saya keluarkan dari dus, saya lalu mengambil kamera dan memotret handphone tersebut beberapa kali, setelah itu baru mengeluarkannya dari dusnya.

Nokia 510 yang menyimpan banyak kenangan. Semoga dia aman di tangan pemilik barunya.

Rupanya pengepakan Lumia 510 itu memakai sistem double packing. dimana bagian luar merupakan selongsong dari dus yang berada di dalam. begitu lidah dus yang di dalam saya tarik, maka menyembullah sebuah handphone yang terbaring di bagian atas dus dan layarnya masih dilapisi plastik pelindung layarnya. Sebuah handphone yang benar-benar masih baru, bukan handphone bekas. Bekas dari toko, mungkin. 🙂

Karena handphonenya memakai kartu ukuran micro, saya tidak bisa memasang SIM Card yang ada di Nokia C3 saya ke Nokia Lumia 510 tersebut. Saya lalu pergi keluar hotel mencari konter pulsa dan yang tidak begitu jauh dari hotel. Sejak itu Lumia 510 tersebut menjadi andalan saya kemana pergi atau mengikuti acara blogger. Sebuah kenang-kenangan yang paling berkesan di Asean Blogger Festival di Solo.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *