Tiga Kali Kehilangan, Allah Selalu Menggantinya Dengan yang Lebih Baik

Lenovo P70

Saat mau berangkat ke tempat ponakan di Pulo Mas Oktober lalu, saya naik bus Patas P14 Mayasari Bakti jurusan Tanah Abang-Tanjung Priok. Naik bus dari Tanah Abang saya duduk di deretan bangku nomor dua dari pintu belakang, karena bangku bagian depannya sudah penuh. Dalam perjalanan ada panggilan masuk dari anak saya. Setelah menjawab panggilannya hp saya masukkan ke dalam kantong yang ada di bagian depan ransel.

Saat turun di halte Cempaka Mas, saya memilih lewat pintu belakang karena lebih dekat turun dari busnya. Tali ransel saya sandang di pundak kiri-kanan dan ranselnya diatas dada menghadap ke depan sebagaimana biasanya kalau saya naik kendaraan umum . Begitu sampai dekat tangga belakang, beberapa orang yang kelihatannya juga antri akan turun memperlambat jalan saya. Begitu sampai di tangga dan kaki saya melangkah ke anak tangga pertama, tiba-tiba mata saya tertutup oleh topi. Sesaat saya gelagapan karena kaki kanan saya belum menginjak anak tangga di bawahnya, saya juga merasakan ada desakan dari belakang. Begitu kaki sebelah kanan saya menginjak anak tangga saya lalu mengibaskan topi yang menutup muka saya. Setelah pandangan mata saya sudah tidak ada yang menghalangi lagi, saya melihat kantong tas depan sudah terbuka, handphone dan sejumlah uang di dalamnya sudah tidak ada lagi!

Kenangan saat berkunjung ke Lapas Suka Miskin Bandung, bersama blogger Rahab Ganendra.

Saat meneruskan langkah menuruni anak tangga saya berfikir, apakah saya akan berteriak copet tanpa tahu siapa yang mengambilnya, atau membiarkannya saja? Dalam waktu yang singkat itu saya mengambil keputusan untuk tidak mengambil tindakan apa-apa. Keyakinan saya akan rizki dan jodoh adalah kuasa Allah, maka saya mengikhlaskan uang dan handphone yang telah tiga tahun menemani keseharian  saya diambil copet itu. Sempat juga tersirat ingatan untuk pergi ke pusat servis Lenovo untuk mematikan nomor IMEI handphonenya agar tak bisa dipakai lagi oleh siapapun yang memilikinya. Namun hal itu tidak jadi saya lakukan, ada kesadaran lain yang muncul kepermukaan. Apakah dengan melakukan itu saya mendapat keuntungan? Dengan aktifnya handphone tersebut, masih ada yang bisa memanfaatkannya. Bila seandainya handphone tersebut dijual oleh si pencopet, mudah-mudahan uangnya bisa dipakai untuk kebutuhan keluarganya yang mungkin saja tengah menunggu di rumah dalam keadaan perut kosong atau untuk membiayai anggota keluarganya yang sakit.

Sejak itu saya tidak lagi memikirkan handphone tersebut, saya sudah ikhlas. Allah telah memberi saya handphone tersebut saat berkunjung ke Penjara Suka Miskin Bandung, ketika mengunjungi bapak Indar Atmanto bersama 50 orang wartawan dan blogger yang diinisiasi oleh PWI Jaya tahun 2015 lalu. Saat akan pulang dari kunjungan, ada penarikan doorprize, alhamdulillah saya mendapat sebuah handphone android Lenovo P70 yang benar-benar saya butuhkan saat itu, lalu bila kini Allah mau mengambilnya lagi maka tak seorangpun bisa menghalanginya, berarti   sampai disanalah jodoh saya bersama handphone yang telah berjasa menemani aktifitas saya sehari-hari sebagai blogger maupun di media sosial.

Sejak hilangnya handphone android tersebut, selanjutnya hari-hari saya ditemani oleh dua windowsphone, yaitu Nokia Lumia 510 hadiah dari seorang teman dan Huawei sebagai hadiah postingan artikel saya di Indonesiana bersama 45 orang blogger dan wartawan lain dalam rangka  ulang tahun Tempo ke 45.

Huawei hadiah dari Tempo, dalam rangka ulang tahunnya ke 45

Hilangnya Lenovo P70 ini memang cukup merepotkan saya. Itu disebabkan ada beberapa aplikasi yang tidak bisa diinstall di Windowsphone seperti aplikasi ojek online Gojek, Grab maupun Uber. Sementara mobilitas saya banyak bergantung ke aplikasi tersebut selain bus Transjakarta dan kendaraan umum lainnya. Malah WhatsApp dalam sehari bisa beberapakali memberi peringatan bahwa dukungan WA terhadapWindowsphone akan berakhir di penghujung tahun 2017 ini. Messenger malah seperti anak hilang yang hidup terlunta-lunta sendirian, karena begitu diinstal tidak bisa terhubung kemana-mana termasuk ke facebook. Begitu juga nomor kontak teman-teman yang berada di Google juga tidak bisa di import. Sehingga tak satupun nomor teman-teman yangada di memori kedua Windowsphone tersebut selain yang di masukkan secara manual melalui keypad. :'(

Nokia Lumia ikutan dicopet.

Masih di bulan Oktober, Tuhan kembali memberikan ujian kepada saya. Karena ada keperluan ke Kalibaru Timur, dari Tanah Abang saya naik Kopaja jurusan Setia Budi. Turun di pertigaan Tugu Tani karena Kopaja  berbelok ke arah Cikini. Saya melanjutkan dengan berjalan kaki di sepanjang jalan Kwitang menuju arah Senen terus menyeberangi rel kereta di samping Stasiun Senen belok kiri melewati Pasar Poncol terus ke Kalibaru Timur sejauh hampir 2 kilometer.

Setelah melewati lampu merah di persimpangan Pasar Senen sekitar 100 meter mendekati Stasiun, saya merasakan ada yang menyangkut di kaki sebelah kiri. Setelah berhenti dan melihat ke kaki kiri, saya melihat kabel powerbank yang ujungnya dicolokkan ke handphone tergantung dengan ujungnya yang satu lagi masih tertancap di powerbank  yang berada dalam ransel yang berada di punggung. Saya lalu melepaskan tali ransel sebelah kanan lalu memutar ransel kedepan. Sama seperti yang terjadi saat Lenovo kena copet, kantong ransel bagian depan sudah terbuka dan Nokia Lumia 510 itu sudah tidak berada lagi di dalamnya. Rupanya saat kaki saya terserimpet oleh kabel powerbank adalah saat handphone tersebut diambil oleh copet dan kabel yang menancap di handphone dilepaskan lalu ujungnya jatuh dan mengenai kaki saya. Saya lalu melihat ke belakang, saya melihat seorang laki-laki yang kelihatannya masih muda berkaos hitam berjalan menjauhi saya.

Kembali saya berfikir apakah saya akan berteriak “copet” atau akan membiarkannya berlalu membawa hasil curiannya? Kembali hati nurani bicara: Kalau Allah mau mengambil siapa yang bisa menghalangi? Dengan berteriak “copet” dan mengejar si pencopet, mungkin tidak butuh waktu 1 menit dia sudah tertangkap oleh warga yang berada di sekitar sana karena jaraknya hanya belasan meter dari saya, dia akan dipukuli, dihajar sehingga babak belur atau berdarah-darah lalu diamankan oleh polisi. Apa yang saya dapatkan dari kejadian itu? Mungkin Nokia saya akan kembali, itu juga kalau kondisinya masih utuh, tapi kapan ? karena itu akan menjadi barang bukti nanti di persidangan. Urusannya akan jadi panjang hanya gara-gara saya menolak takdir Tuhan, dan seorang anak manusia masuk penjara hanya karena tidak adanya keikhlasan dalam diri saya menerima kehendak Tuhan. Toh handphone itu saya dapatkan juga atas kehendak Tuhan yang menggerakkan hati seseorang saat saya kehilangan Samsung Galaxy 2 Y di Solo dulu, Allah yang memberikannya lewat perantaraan seseorang dan kini Dia mengambilnya lagi lewat seseorang juga.

Setelah memasukkan kabel charger ke dalam ransel, saya meneruskan perjalanan ke Kalibaru Timur. Kini senjata saya tinggal Huawei.

Bersambung

5 tanggapan pada “Tiga Kali Kehilangan, Allah Selalu Menggantinya Dengan yang Lebih Baik”

  1. Turut berduka Bang. Semoga, lagi2 mendapatkan ganti yg lebih baik.
    Saya kira Jakarta sudah aman dari copet, ternyata masih banyak. Takdir Allah memang di luar kuasa manusia, manusia hanya wajib berusaha.

Tinggalkan Balasan ke Haerul Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *