Menyeberang Sungai Dengan Titian Bambu

Tian Bambu ini bukanlah di kampung saya. Disini terlihat bambu buat pijakannya ada dua, sementara yang titian bambu yang biasa saya lewati hanya satu.  Foto: Zozu.site @escapeartist.neverdie

 

Guguak Rang Pisang dan Koto Kaciak merupakan dua Jorong atau Desa yang bertetangga di Nagari Kamang Ilia, Bukittinggi. Keduanya dipisahkan oleh agam atau sungai yang mengalir berliku dari utara ke selatan. Kedua jorong ini dihubungkan oleh sebuah jembatan yang terdapat di simpang tiga Tarok, Koto Kaciak dan Guguak Rang Pisang. Walau bertetangga namun perkampungan peduduk keduanya cukup berjauhan. Karena selain sungai, keduanya juga dipisahkan oleh persawahan yang membentang cukup luas.

Persawahan yang luas dan bertumpak-tumpak ini, dimiliki oleh penduduk di kedua jorong dengan luas yang beragam setiap tumpaknya. Bila musim hujan tiba dan sawah mulai diolah untuk bertanam padi setelah sebelumnya diselingi dengan tanaman palawija seperti kacang tanah, jagung, ubi dan kadang juga sayuran, seperti kacang panjang, bawang dan buncis serta kedelai yang oleh penduduk setempat disebut kacang ramang.

Untuk memperpendek jarak tempuh, karena harus memutar saat melewati jembatan bila ingin ke sawah, warga Koto Kaciak membuat sebuah jembatan atau lebih tepatnya titian sederhana dari pohon bambu. Setelah rantingnya dibersihkan, pohon bambu tersebut di bentangkan di atas sungai.

Titian ini terdiri dari dua batang bambu. Satu batang untuk pijakan, dan satu batang lagi di buat lebih tinggi sekitar sepinggang orang dewasa yang berfungsi sebagai alat untuk berpegangan. Jadi bila menyeberang, kaki menginjak bambu sebelah bawah dan sebelah tangan memegang bambu yang sebelah atas untuk menjaga keseimbangan. Bambu yang di pakai untuk titian ini sengaja diambil dari hutan Bukit Barisan yang memang tidak jauh dari sana. Bambunya cukup besar dan panjang, hingga cukup untuk dibentangkan memotong lebar agam yang hampir 8 meter.

Saat mengaji di surau Koto Kaciak, aku adalah satu-satunya murid yang datang dari Guguak Rang Pisang. Pulang pergi mengaji dari Karan, dusun tempat rumah keluarga ayahku berada. Berjalan di atas pematang, aku melewati hamparan sawah luas yang membentang antara Guguak Rang Pisang hingga ke pinggiran agam, yang di seberangnya terletak jorong KotoKaciak dimana masjid Nurul Huda dan surau tempat aku mengaji berada.

Bagi yang belum pernah menyeberang memakai titian ini, memang menimbulkan rasa sensasi dan kengerian sendiri, karena mata akan terpengaruh oleh air sungai yang mengalir di bawahnya. Apalagi bila musim hujan, hingga air sungai cukup tinggi yang kadang-kadang permukaannya menyentuh titian ini. Dibutuhkan keberanian ekstra untuk tetap menyeberang melalui titian ini.

Begitu juga bila menyeberang berdua atau bertiga, dibutuhkan tehnik sendiri untuk menjaga keseimbangan dan ayunan langkah dalam meniti di titian ini. Bila langkahnya tak seirama, maka titian ini akan berayun tak beraturan, yang bisa berakibat terpeleset dan jatuh ke sungai dengan segala macam resikonya.

Tapi setiap rombongan juga akan melihat berapa orang maksimal yang bisa sekaligus melewati titian ini, dengan melihat lengkungan titian bambu yang terinjak para penyeberang. Bila tidak mungkin dan membahayakan, maka mereka akan bersabar menunggu hingga rombongan yang di depannya tuntas ke seberang, atau ketika titian bambu sudah kembali pada posisi yang tidak begitu mengkhawatirkan.

Biasanya penduduk yang sudah berpengalaman, akan membiarkan mereka yang belum pernah atau masih gamang menyeberang di titian ini menyeberang sendirian. Karena kalau sendiri beban titian ini tidak begitu berat dan ayunannya juga tidak seberapa.

Pertama kali menyeberang melewati titian bambu ini karena terpaksa. Karena keasyikan bermain pulang sekolah, aku terlambat sampai di rumah. Setelah makan dengan buru-buru, aku berjalan cepat di atas pematang dan melewati sawah yang luas itu dan kemudian nekat melewati titian bambu tersebut. Karena bila harus melewati jembatan aku akan semakin terlambat karena jalannya memutar, resikonya aku akan kena cambuk pakai rotan di telapak kaki.

Dengan perasaan campur aduk antara takut kena cambuk guru ngaji dan takut jatuh ke dalam sungai, pelan-pelan aku berjalan di atas titian bambu itu. Bila orang dewasa meniti dengan berpegang ke bambu hanya dengan satu tangan dan berjalan tetap lurus ke depan, maka aku meniti dengan berjalan menyamping. Kedua tanganku memegang bambu yang di atas dan kakiku beringsut bergeser menyamping sedikit demi sedikit menginjak bambu yang di bawah. Aku berusaha agar titian yang aku injak di sebelah bawah maupun yang ku pegang di sebelah atas tidak bergoyang, agar aku bisa menjaga keseimbangan tubuhku agar jangan sampai jatuh ke sungai, yang akibatnya tentu akan semakin buruk.

Aku cukup beruntung saat itu, karena tidak ada orang lain yang juga akan ikut menyeberang. Sehingga aku bisa lebih fokus menjaga keseimbangan dan menjaga agar titian itu tidak bergoyang. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi bila teman-teman ada yang melihat aku menyeberang di titian. Mereka pasti akan menakut-nakuti aku sambil tertawa-tawa dengan menggoyang titian yang aku lewati.

Aku tidak tahu berapa menit yang aku lewati saat melintasi titian yang panjangnya hanya 8 meter itu. Rasa takut yang diiringi oleh mengucurnya keringat yang membasahi baju, kaki yang gemetar saat bergeser selangkah demi selangkah. Aliran air sungai seakan menatapku sambil siap menangkap lalu menghanyutkan dan menenggelamkan aku bila jatuh, ikut membuat nyaliku semakin ciut. Tapi bayangan cambuk rotan yang akan hinggap di telapak kakiku, menghilangkan bayang-bayang dan ketakutanku, sehingga aku berusaha menyeberang dan menggeser kakiku lebih cepat lagi yang membuat titian yang kuinjak maupun yang aku pegang ikut yang bergoyang yang memaksa aku memperlambat langkahku lagi.

Aku menarik nafas panjang begitu sampai di seberang, lalu berlari sekencangnya menuju surau. Tak seorangpun teman yang terlihat di halaman atau di jalan menuju surau, aku benar-benar terlambat…

Dengan dada berdebar dan baju yang sudah basah oleh keringat aku menaiki tangga surau, sambil membayangkan rotan yang akan hinggap di kakiku dengan kekuatan dan kecepatan penuh. Begitu aku terlihat masuk dari pintu semua teman melihat kepadaku. Ada yang tersenyum sambil mengayunkan tangannya seakan sedang memegang rotan yang siap dipukulkan ke kakiku. Ada juga yang melihat ke arah guru, mungkin juga sambil membayangkan guru ngaji itu akan segera menjatuhkan hukuman.

“Plak…!”

Bunyi rotan yang dipukulkan ke lantai surau yang terbuat dari papan, begitu nyaring terdengar. Mengalahkan suara-suara yang tadinya berisik dan membuat semua yang berada di dalam surau itu terkejut, serta secara serentak kembali mengalihkan pandangan mereka ke Al-Qur’an di hadapan masing-masing, sambil sesekali mata mereka melirik kearah guru ngaji serta rotan yang berada di tangannya.

Setelah mengucapkan salam, aku mengambil Al-Qur’an di rak yang ada di dinding surau, lalu duduk di samping teman yang menggeser badannya untuk memberikan tempat duduk untukku.

Tidak ada pertanyaan untukku dari guru ngaji sebagaimana biasanya ditanyakan kepada setiap murid yang terlambat. Dengan perasaan yang tidak karuan, aku membuka Al-Qur’an di hadapanku. Aku tidak berani melihat ke arah guru ngaji, begitu juga ke teman-teman lainnya. Aku berusaha khusyuk saat membaca ayat Qur’an yang ada di hadapanku, namun sesekali bayangan rotan itu melintas juga di hatiku.

Hingga waktu ngaji kami usai dan kami bubar kembali ke rumah masing-masing, tidak ada sabetan rotan yang hinggap di kakiku. Teman-teman sambil bisik-bisik karena tidak ingin terdengar oleh guru ngaji, mempertanyakan hal itu. Tapi pertanyaan itu tak terjawab dan bisik-bisik itu segera bubar saat mendengar suara bel sepeda guru ngaji melewati kami. Seperti biasa, aku pun berjalan cepat mendahului teman-teman, agar aku tidak kemalaman sampai di Guguak Rang Pisang.

Tapi kini titian itu sudah tidak ada lagi, saat aku pulang dan berkelana di Ranah Minang tahun 2010 lalu, titian itu sudah berganti dengan jembatan  sederhana yang juga masih terbuat dari bambu seperti kelihatan pada foto di bawah. Tapi bambu yang dibentangkan di atas sungai itu berjajar cukup banyak, sehingga membentuk jembatan selebar sekitar satu meter dan di atasnya diberi alas dengan anyaman bambu, begitu juga di samping kiri kanan dipasang jaring pengaman, sehingga lebih nyaman untuk diseberangi.

Disinilah lokasi titian bambu itu. Tapi titian bambu itu kini sudah berganti bentuk menjadi sebuah jembatan sederhana yang juga terbuat dari bambu.

 

 

 

 

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *