Berkelana di Ranah Minang (1)

Artikel pengelanaan saya di Ranah Minang plus Riau ini pernah saya posting di Kompasiana 1 Desember 2010. Tapi karena jadwal posting yang kurang beraturan, maka  saya posting lagi di blog ini dengan beberapa perbaikan dan tambahan informasi. Selamat menikmati.

Tersendat menjelang masuk Bandara Soekarno Hatta

Untuk suatu tugas, saya harus meninggalkan Jakarta. Agar tak kesepian di jalan, saya akan mengajak Anda para pembaca mengikuti perjalanan saya yang mungkin akan memakan waktu sekitar sepuluh hari. Tapi walaupun saya mengajak Anda, kalau tiba giliran di potret hanya sayalah yang akan tampil, hehehe…  Anda sekalian cukup menikmati saja. Kecuali kalau nanti di perjalanan saya bertemu dengan teman atau kompasianer lain, barulah dia akan saya tampilkan. Jadi nggak usah ngiri ya…! 🙂

Perjalanan saya ini di sponsori seorang kompasianer bernama Nurul Musyafirah, yang kebetulan juga putri sulung saya, seorang muka baru di Kompasiana. Mahasiswa jurusan Broadcasting di salah satu perguruan tinggi di Jakarta, ibu dengan satu anak, dengan aktifitas sebagai Freelance Presenter.

Dengan konfirmasi penjemputan yang mendadak di saat saya masih asyik internetan dan facebook-an, saya terpaksa hanya memakai kaos oblong menuju bandara Soekarno-Hatta. Belum semua perlengkapan perjalanan sempat di masukkan ke dalam backpack saya, sehingga, karena harus buru-buru agar cepat, semuanya dimasukkan saja ke dalam kantong plastik berukuran cukup besar, baru nanti dirapikan lagi di bandara Soekarno-Hatta.

Segalanya harus gerak cepat, karena jemputan sudah datang dan tak bisa menunggu lama. Karena mobil yang saya tumpangi adalah mobil teman menantu saya yang juga akan berangkat ke Padang, tapi dengan pesawat yang berbeda dengan jadwal yang berbeda juga dengan pesawat yang saya tumpangi. Dia satu penerbangan lebih awal dari saya.

Adi sang pemilik mobil, mengantarkan sepupunya Dessy dengan jadwal penerbangan jam 11.00. sementara jam sudah menunjukkan angka sembilan lewat beberapa menit.

Tanpa sempat bersalaman dengan si kecil Rizqy dan bundanya, kami meninggalkan rumah di Tomang.

Baru saja keluar dari jalan Gelong Baru memasuki jalan S. Parman, bayang-bayang kemacetan telah menghantui kami. Deretan mobil yang terganjal lampu merah persimpangan Tomang, membuat jantung berdegup lebih kencang. Tapi untunglah jalur yang akan kami pakai untuk memutar di bawah kolong jalan layang Tomang, lumayan lancar. Sehingga kami dapat memutar balik arah menuju Grogol.

Tapi kami juga belum bisa menarik nafas lega, karena jalan S. Parman sejak dari depan Mall Taman Anggrek hingga ke persimpangan Grogol kembali mengganjal perjalanan kami. Untuk menghindari situasi keterlambatan yang lebih parah, kamipun mengikuti mobil yang berada di depan masuk jalur busway, hal ini membuat suasana hati lumayan lega. Karena mobil bisa melesat lebih kencang hingga persimpangan Grogol.

Alhamdulillah sejak dari Grogol hingga ke bandara mobil bisa melaju cukup kencang, hanya tersendat sedikit ketika akan memasuki terminal bandara. Pukul 10.20 kamipun sampai di terminal B1 bandara Sekarno Hatta.

Setelah melepas teman yang akan terbang duluan, saya lalu membenahi bawaan saya yang masih berantakan di kantong plastik ke dalam backpack. Karena jadwal penerbangan saya masih sekitar dua jam lagi, saya bersama anak, menantu dan cucu yang ikut mengantar bermain-main di sekitar bandara.

 

12911680691139000104
Trio Pengantar

12911682911670804543
Mejeng di Balkon pengantar rombongan

 

1291168422629175429
Yang mau ditumpangi sudah parkir, penumpangnya masih asyik bernarsis ria…

 

12911686192099045339
Mereka yang mengantar, anak, menantu dan cucu…

 

12911687201860355689
Selamat jalan kakeeek….

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *