Kapiradan, Biar Kebal Pukulan

 

Waktu di kampung, sebelum masuk Panti Asuhan, aku punya dua surau untuk mengaji.

Bila aku di Ladang Darek, rumah keluarga ibuku. Aku mengaji di Surau Binu dengan guru mengaji bapak Labai Rukun. Bila aku di rumah keluarga ayahku di Guguak Rang Pisang, aku mengaji di surau Koto Kaciak.

Keunikan kedua surau ini adalah sama-sama berada di pinggir agam atau sungai yang mengalir sepanjang nagari Kamang Ilia. Apalagi surau Binu, yang benar-benar berada di bibir sungai, sehingga untuk mengambil wudhuk jamaah tinggal nyemplung ke sungai yang di pinggirnya sudah dibuatkan bertangga batu hingga ke dasar sungai.

Sedangkan surau Koto Kaciak berjarak sekitar 50 meter dari pinggir sungai, di batasi jalan dan dua rumah penduduk serta Masjid.

Sewaktu masih mengaji di Surau Koto Kaciak, kami punya guru yang cukup keras dan tegas.

Sebilah rotan sebesar jari kelingkingku yang di kampungku disebut dengan rotan mancik dengan panjang hampir satu meter, selalu mendampingi beliau bila sedang mengajar kami. Suara rotan yang menyentak ketika di pukulkan ke lantai surau yang terbuat dari papan untuk mendiamkan teman-teman yang berisik, sering membuat kami terkejut dan terdiam mati kutu.

Rotan ini akan berbicara bila tak bisa atau salah dalam menjawab, ketika tiba-tiba salah seorang diantara kami disuruh membaca atau menunjukkan surat atau ayat yang sedang dibaca teman yang dapat giliran membaca.

Bila hal ini terjadi, maka mau tidak mau, suka tidak suka atau ikhlas tidak ikhlas, silakan menyerahkan telapak tangan menghadap sang guru. “Plak….” Suara lecutan rotan yang hinggap di telapak tangan, akan memecah kesunyian di tengah murid-murid lain yang terdiam menyaksikan.

Rotan ini akan hinggap di punggung tanpa di duga, bila ada teman-teman asyik mengobrol dan dengan diam-diam sang guru akan mendekati dari belakang.

Untuk menghadapi situasi tak terduga ini, bila pergi mengaji, dari rumah anak-anak yang biasa jadi biang berisik ini membuat benteng pertahanan. Ada yang mengganjal punggungnya dengan koran bekas atau buku, atau memakai jaket, padahal sedang panas terik jam dua siang!

Satu cara lagi tehnik untuk menghindari sakit kena sabetan rotan pada telapak tangan, adalah dengan cara duduk bersimpuh.

Sewaktu duduk bersimpuh ini, kedua tangan di jepit diantara paha dan betis atau tepatnya diduduki. Maksudnya agar kedua telapak tangan mengalami kapiradan atau kesemutan. Dalam kondisi kesemutan ini sabetan rotan tak begitu terasa, walau ujung-ujungnya ketika tangan sudah normal, rasa sakit itu tetap ada dan bagian telapak yang kena pukulan rotan itu tetap saja berwarna kemerahan.

Tapi untungnya punya guru yang tegas dan keras ini, membuat kami cepat menangkap pelajaran, karena frekwensi bercanda dalam waktu belajar itu semakin berkurang. Konsentrasi terhadap pelajaran semakin tinggi, karena tidak ingin “sarapan ketiga” dengan pukulan rotan, dan pulangnya membawa oleh-oleh telapak tangan berwarna semu kemerahan.

Tapi trik membuat tangan kapiradan ini lama-lama ketahuan. Bila menemukan murid yang melakukan trik ini, sang guru bukan melecut telapak tangan yang sudah “siap menerima serangan” ini, melainkan meminta sang murid menjulurkan kakinya, kemudian: “plak!, plak….!” Suara rotan mendarat di telapak kakipun bergema di tengah ruangan surau.

Pukulan di telapak kaki inipun mendapat bonus. Bila yang di pukul telapak tangan pukulannya hanya satu kali, maka ketika rotan itu mendarat di telapak kaki pukulannya di tambahi bonus satu kali pukulan lagi, menjadi dua pukulan dengan kekuatan ayunan yang juga ada bonusnya, hingga begitu mendarat di telapak kaki jauh lebih sakit bila dibandingkan dengan pukulan ke telapak tangan.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *