Kisah Terakhir di Surau Binu

Surau tempat kami mengaji yang berada di samping kanan Masjid Nurul Huda, Koto Kaciak. Atap seng yang berkarat memperlihatkan usia surau ini yang sudah tua.

Setelah membaca artikel saya yang pertama, salah seorang teman bertanya, kenapa saya sampai mengaji di Binu? Saya bisa mengerti kenapa sang teman bertanya seperti itu, karena saya anak Ladang Darek, tetapi mengaji di Binu. Kenapa tidak di surau Tabiang atau mushalla Miftahul Ulum yang lebih dekat dari rumah?

Waktu sekolah di Sekolah Dasar Hilir Lama, diantara teman sekelas saya punya teman orang Binu, namanya Sopirman. Suatu hari pas waktu pulang sekolah, dia mengajak saya untuk ikut ke rumahnya di Binu. Tanpa berpikir panjang lagi, saya pun mengiyakannya. Bila biasanya ketika pulang sekolah, saya beserta adik sepupu Fitrizal pulang ke Ladang Darek melewati Tanjuang Kudu lalu Koto Sariak dan berakhir di Tangkamang, sebelum sampai di rumah kami di Baburai. Maka siang itu saya beserta Sopirman melewati jalan Rumah Tinggi, Gobah lalu menurun melewati persawahan dan bendungan Batu Bajolang hingga sampai di Binu sejauh lebih kurang 2 kilometer.

Setelah makan siang di rumah orang tua Sopirman dan juga adiknya Agus, dia lalu mengajak saya untuk ikut mengaji di surau Binu. Awalnya saya kurang bersemangat untuk mengikutinya, tapi mau langsung pulang saja ke Ladang Darek saya juga merasa malas, karena belum puas bermain bersama dua bersaudara itu, juga teman-teman yang lainnya yang saat itu juga sudah mulai berdatangan dari rumah masing-masing ke Surau Binu. Yang membuat saya betah bermain bersama mereka juga adalah karena sebelum mengaji dimulai, teman-teman mengajak saya untuk ikut mandi di Batang Agam yang berada di depan surau. Ketika selesai mandi karena guru ngaji sudah datang dan teman-teman sudah berlarian masuk surau, sayapun akhirnya mau juga diajak ikut masuk surau dan mengaji bersama mereka, sebab saya juga tidak ingin tinggal dan bermain sendirian di halaman surau tanpa seorang temanpun. Karena guru mengajinya juga sudah mengenal saya, maka kehadiran sayapun diterima dengan baik. Sebagai murid dadakan dan tanpa persiapan, sayapun lalu dipinjami Al-Quran milik surau. Sejak itu, sayapun secara rutin tiap hari ikut belajar mengaji di sana. Baik ketika tinggal di Ladang Darek, maupun saat bersama keluarga ayah di Guguak Rang Pisang.

Histeris digigit lintah.

Setelah ikut mengaji beberapa lama, musim hujan mulai mengguyur kampung kami. Air yang mengalir di Agam mulai meninggi hingga permukaannya hanya berjarak sekitar satu meter dari jembatan. Tangga batu tempat turun ke dasar agam yang tadinya kelihatan beberapa anak tangga, hanya tinggal satu anak tangga paling atas yang kelihatan. Agam yang biasanya jernih mulai terlihat keruh kecoklatan warna tanah yang terbawa oleh air yang mengalir dari sawah yang juga tergenang oleh air hujan.

Kegembiraan kami mandi di agam tidak terhalang oleh besar dan keruh serta derasnya air yang mengalir. Kami tetap mandi seperti biasa, walau harus lebih berhati-hati menghindari pusaran air agar tidak tenggelam atau hanyut. Sayapun tidak mau ketinggalan sebagaimana teman yang lain. Selesai mandi karena waktu mengaji telah tiba, kami berjalan menuju surau. Saat berjalan saya merasakan ada yang lengket di telapak kaki, saya kira hanya sehelai daun kayu kering, lalu menyapukan kaki ke rumput, namun yang lengket tidak juga lepas. Saat akan melihat untuk mengetahui apa yang menempel di kaki saya, seorang teman berteriak: “Hei, ada lintah di kaki kamu!

Saya paling takut dengan lintah, mendengar teman meneriakkan ada lintah di kaki saya, sayapun dengan perasaan geli dan takut, berlarian dan melompat  berputar tak tentu arah, yang dalam bahasa kampung saya “galinjang-galinjangi”, dengan harapan lintah itu lepas dari kaki saya. Sementara teman-teman semuanya tertawa terpingkal-pingkal melihat saya ketakutan dengan rona wajah yang sulit untuk dijelaskan.

Seorang teman yang sudah terbiasa dengan lintah, lalu menangkap tangan saya. Dia menyuruh saya diam, sementara saya rasanya sulit sekali untuk diam dan tenang. Dia lalu memegang kaki saya dengan tangan kirinya, lalu mengangkat kaki saya dan menekuknya ke belakang hingga telapak kaki saya jelas kelihatan. Dengan beralaskan sehelai daun kayu, dengan tangan kanannya dia lalu memegang dan melepaskan lintah yang sudah gemuk sebesar jari karena menghisap darah itu dari kaki saya, lalu membuangnya ke agam.

Walaupun lintah itu sudah lepas dan tidak lagi menempel di kaki saya, tapi bayangan lintah itu tetap ada dalam memori saya, sehingga bila hal itu teringat, sayapun merinding atau bergidik dengan perasaan takut dan geli. Teman-teman yang lainpun tak henti-hentinya mengetawai saya, sambil sesekali menyentuh kaki saya dengan daun kayu sambil mengatakan; “Ada lintah! yang membuat saya serta merta terkejut dan melompat tidak karuan. Hal itu membuat tertawa teman-teman yang lain semakin ramai. Sementara dalam hati, saya juga merasa kesal bercampur geli. Candaan itu baru berhenti setelah kami semua duduk di dalam surau, melingkar menghadap guru sambil membaca Al-Quran bacaan kami masing-masing. Namun sesekali teman masih suka melirik saya sambil tersenyum geli. Atau teman yang duduk di samping saya mencolek kaki saya dengan benda apa saja yang membuat saya terkejut, dan dia maupun yang lain berusaha menunduk sambil menahan tawa cekikikan agar tidak kelihatan atau kedengaran oleh guru mengaji kami inyiak aki Labai Rukun.

Karena kakak saya Yuslinar ikut merantau ke Padang bersama suaminya, dan saya tinggal sendiri di rumah gadang. Saya lalu pindah dan menetap di Guguak Rang Pisang, tapi sesekali juga pulang ke Ladang Darek dan tinggal bermalam di rumah etek Fatimah Nidar, ibunya Fitrizal dan Azmayetti, atau di rumah amai Nurul Huda, ibunya kak Azizah dan Widadi.

Karena cukup jauh bolak-balik mengaji ke Binu, akhirnya saya pindah mengaji ke surau Koto Kaciak. Namun kenangan mengaji di Binu tetap takkan terlupakan.

 

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *