Menyaksikan Tentara Berburu Kalong

 

Jorong atau Desa Binu yang terletak di kaki Bukit Barisan

Sebagaimana kebanyakan desa yang bersentuhan langsung dengan Bukit Barisan yang membujur sepanjang pulau  Sumatera, demikian juga Binu dan juga beberapa desa lainnya di Nagari Kamang Hilir, seperti: Guguak Rang Pisang, Solok, Bancah dan Batu Baraguang. Diantara desa tersebut, desa Binu punya keunikan sendiri. Hal yang menjadi daya tarik khusus desa Binu ini, yaitu; di salah satu sudut Bukit Barisan yang ditumbuhi kayu-kayu yang tingginya mencapai belasan atau mungkin malah puluhan meter dan usianya sudah puluhan tahun tersebut terdapat komunitas Kalong yang oleh penduduk setempat disebut “kaluang”.

Adanya komunitas kalong ini baru saya ketahui sewaktu saya mengaji di Surau Binu.  Kehadiran kalong yang jumlahnya ribuan ini bisa disaksikan saat mereka bergantungan di ranting salah satu pohon yang sangat besar dan tinggi dengan cabang dan ranting begitu banyak. Karena begitu banyaknya kalong ini, daun kayu yang seharusnya tumbuh lebat di setiap ranting, akhirnya habis berguguran dan tidak tumbuh lagi. Kalong-kalong yang bergelantungan dalam posisi terbalik itupun seakan menjelma menggantikan daun. Saya tidak tahu, sejak kapan kalong ini melakukan migrasi ke tempat ini. Namun faktanya, setiap hari saat pulang mengaji sekitar pukul 5 petang hingga menjelang magrib, kami akan menyaksikan para kalong itu satu persatu mulai keluar meninggalkan pohon tempat mereka menumpang hidup, lalu beterbangan ke berbagai arah, mencari makan untuk penyambung hidupnya. Nagari Kamang yang subur dengan aneka tumbuhan dengan buah yang juga menjadi sumber penghidupan penduduknya, menjadi santapan gratis para kalong ini pada malam hari. Bila para kalong ini sudah pergi semua meninggalkan pohon tempat mereka bergantung istirahat seharian, maka tinggallah sang pohon raksasa itu bagai kayu mati dimakan usia. Terlihat jelas dari jembatan di depan surau, kayu itu meranggas dan kerontang tanpa daun, hidup segan mati tak mau. Sangat kontras dengan pepohonan lain yang berada di sekelilingnya, yang tumbuh subur rimbun menghijau sepanjang bukit barisan.

Keberadaan habitat kalong ini rupanya tidak hanya diketahui oleh warga nagari Kamang Hilir. Terbukti dengan datangnya beberapa kali tentara membawa senjata untuk berburu kalong di desa Binu ini. Sekali saya pernah membuntuti tentara ini dengan beberapa teman. Ketika sudah sampai di lokasi pohon tempat kerumunan kalong bergantungan, sambil menutup telinga  agar tidak terlalu terkejut mendengar letusan senjata saat tentara tersebut melepaskan tembakannya, kami menyaksikan begaimana tentara itu menembak kalong di pohon tinggi tersebut.

Walau kelihatannya sedang diam tertidur tergantung di ranting kayu, tapi nampaknya tidaklah mudah menembak kalong ini. Karena walaupun mereka kelihatannya tertembak, namun sang kalong tidak langsung jatuh ke tanah. Cengkeraman kukunya di ranting kayu cukup kuat untuk menahan dirinya agar tidak langsung jatuh saat kena peluru.

Saat yang paling saya senangi waktu tentara berburu kalong ini adalah, ketika satu tembakan berbunyi menggelegar, maka kalong ini beterbangan karena terkejut dan merasa terganggu jam istirahatnya.  Karena belum waktunya terbang pergi mencari makan, maka ribuan kalong ini hanya terbang berputar-putar di angkasa desa Binu ini. Karena jumlah mereka ini ribuan dan terbang serentak, maka desa Binu yang tadinya terang benderang karena masih siang, dalam sekejap berubah menjadi temaram, seperti sedang terjadi gerhana matahari. Ribuan kalong ini bagaikan tenda raksasa yang dibentangkan di desa Binu, menutup cahaya matahari siang menjelang sore, sehingga suasana menjadi teduh dan sejuk. Karena begitu banyaknya kalong yang terbang, alam pikiran kecil saya malah mengatakan; seandainya tentara itu menembakkan senjatanya tanpa harus membidik ke angkasa yang dikerumuni oleh kalong itu, saya malah punya keyakinan akan ada kalong itu yang tertembak dan akan langsung jatuh ke tanah.

Karena waktu mengaji sudah tiba, kamipun lalu meninggalkan tentara yang masih berada di arena perburuan tersebut. Saat berjalan menuju surau, kepala kami semua menengadah ke angkasa, menyaksikan kalong-kalong yang berterbangan karena tidur siang mereka terganggu.

Masa kecil yang tak terlupakan di surau Binu, dengan segala kenangan yang masih melekat hingga kini.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *