Kenangan Masa Mengaji di Surau Binu

Surau Binu
Surau Binu dan jembatan yang membentang di atas Batang Agam, yang saya abadikan saat pulang kampung dan dilanjutkan dengan berkelana di Ranah Minang tahun 2010.

Membaca berita tewasnya seorang pelajar MTsN Kamang di Batang Agam yang mengalir melewati Jorong Binu, Kamang Hilir, saya ikut merasa sedih atas musibah yang menimpa anggota keluarga korban tersebut. Dalam hati saya hanya bisa mendoakan, semoga almarhum diterima segala amalannya semasa hidup. Semoga dia ditempatkan di tempat terbaik disisi Allah, serta keluarga yang ditinggalkan diberi kesabaran dan kekuatan iman dalam menghadapi musibah ini.

Kenangan masa kecil.

Bagi saya sendiri, Surau Binu meninggalkan banyak kenangan. Sewaktu masih tinggal di kampung tahun 1965 hingga 1969, surau Binu adalah salah satu surau tempat saya mengaji. Surau lainnya, adalah mushalla Miftahul Ulum di Ladang Darek dan surau yang berada di belakang masjid Nurul Huda di Koto Kaciak. Terakhir, saat saya tinggal di Panti Asuhan Aisyiyah Kamang yang berada di Ampang, saya mengaji di Madrasah Ibtidaiyah yang menumpang di gedung PGAN Kamang, yang kini telah berganti nama menjadi MTsN Kamang.

Saat tinggal di kampung, sebelum masuk panti asuhan di Payakumbuh dan kemudian pindah ke Ampang, saya bolak balik tinggal di dua rumah. Rumah pertama yaitu rumah keluarga ibu di Baburai, Ladang Darek dan yang kedua rumah keluarga ayah di Karan, Guguak Rang Pisang. Saya benar-benar bebas untuk pergi dan datang kapan saja di kedua rumah itu.

Saat mengaji di surau Binu ini, sayalah satu-satunya murid yang berasal dari luar Desa Binu. Dari rumah di Baburai, saya harus berjalan kaki sendirian hampir dua kilometer setiap jam 2 siang, saat panas matahari sedang teriknya sehabis pulang sekolah di SD Hilir Lama. Berangkat dari rumah menuju Simpang Labuah, lalu belok kanan mengikuti jalan lurus ke Binu, saya biasa berjalan cepat, agar bisa sampai di surau sebelum jam masuk mengaji. Atau kalau saya sedang berada di Guguak Rang Pisang, dari Karan saya berjalan melewati luasnya bentangan sawah hingga sampai di Jembatan dan simpang tiga. Ke kiri menuju Koto Kaciak dan ke kanan jalan mendaki menuju Tarok. Di pendakian Tarok belok kanan memasuki halaman rumah Nyiak Kodoh terus melewati jalan setapak menyusuru pinggiran Agam hingga sampai di Kapalo Banda atau bendungan Batu Bajolang hingga sampai di Binu. Perjalanan berjalan kaki sejauh lebih kurang 3 kilometer.  Saat sampai di surau, teman-teman yang rumahnya di Binu telah lebih dulu berkumpul. Aktifitas sebelum jam mengaji yang selalu menjadi hiburan, adalah mandi di Agam. Demikian kami biasa menyebut Batang Agam yang mengalir di depan surau Binu itu.

Mandi di agam yang memulainya dengan melompat dari jembatan yang membentang menghubungkan desa Binu dengan desa lainnya, lalu tercebur di kedalaman air sungai 4 meter lebih saat musim hujan dan air sungai berwarna keruh tanah dan mengalir deras yang diikuti oleh pusaran air yang cukup kuat. Tapi di saat musim kemarau, tinggi permukaan air dari dasar sungai bisa hanya 2 meter atau kurang, namun airnya jernih sehingga kita bisa melihat ikan yang bermain di dasar sungai. Tapi saat itulah keasyikan mandi itu lebih terasa. Itu disebabkan karena air sungai lebih tenang, karena tertahan oleh bendungan yang berada sekitar 300 meter di hilirnya. Yang membuat kami lebih bersemangat untuk mandi adalah sensasi yang kami rasakan saat melompat dari ketinggian 4 meter dari atas jembatan ke permukaan air. Juga tingginya cipratan air ke atas saat tubuh kami tercebur dengan posisi punggung menerpa permukaan sungai. Semakin tinggi cipratan airnya semakin ramai pula sorakan atau tepuk tangan yang diterima oleh si penerjun bebas, dan itu semakin membuat kami yang lagi mandi balik lagi dan balik lagi ke atas jembatan untuk melakukan lompatan terbaik yang bisa kami lakukan. Keasyikan itu baru berhenti saat pak Labai Rukun, guru mengaji kami yang biasa kami panggil “inyiak aki” alias kakek, karena beliau memang sudah tua,  sudah tiba. Kamipun bergegas memakai baju dengan tubuh yang masih basah, lalu berlarian ke dalam surau, duduk melingkar, dilanjutkan dengan membaca ayat-ayat Al-Quran bacaan kami masing-masing. Sementara satu persatu diantara kami di panggil dan duduk di hadapan guru untuk didengarkan bacaannya, ditegur kalau salah dan dibetulkan bagaimana seharusnya kami membacanya berdasarkan tajwidnya.

Selama saya mengaji di surau Binu dan mandi di agam, belum pernah kejadian diantara kami yang hanyut. Hal ini mungkin juga disebabkan saat mandi ketika air sungai penuh di musim hujan, kami tidak pernah melawan arus air yang lagi mengalir kecang, kami mengikuti arus air, lalu pelan-pelan menepi dan naik lagi ke tanah, walau agak jauh dari tempat awal kami berenang. Tapi kalau kalau air agamnya benar-benar deras dan pusaran airnya terlihat bergulung-gulung, kami juga tidak mau menantang maut dengan menahan diri hingga air surut dan tidak begitu membahayakan kalau kami mandi dan berenang.

Mejeng sejenak di jembatan Binu. Mengabadikan surau penuh kenangan. (BDRM 2010).

Join the Conversation

4 Comments

  1. Kenangan indah saat kita kecil…ah, tak terlupakan.
    Mandi dan berenang di sungai, ngaji di surau…ini pas dgn masa kecil saya terutama saat liburan sekolah dan berlibur di rumah kakek di Purabaya, sekitar 40-an km arah selatan kota Sukabumi…

    Salam,

    1. Titik Asa:

      Hehehe…. begitulah nikmatnya jadi anak kampung. Suasana yang jarang ditemui di kota dengan segala keriuhannya.

      Terimakasih telah berkunjung

      Salam

  2. sebetulnya, sekalipun sy lahir dan hidup di kota besar jakarta.
    apa yg menjadi pengalaman masa kecil bagi anak2 kebanyakan.
    semisal, mandi di sungai, menggembala kebau, mancing ikan dan belut di empang.
    serta, melakukan segala permainan anak2 pada masanya.
    misal, main gundu, layangan, petak umpet, dampu, ketok lele, dll.
    baik anak2 yg tinggal di desa, maupun sy yg tinggal di jakarta pada saat kecil dulu.
    di era tahun 1960-1975an, itu sama saja.
    karena, kota jakarta pun di tahun itu kondisi pembangunan belum semarak seperti sekarang ini. wilayah jakarta baik timur, selatan dan utara serta barat.
    selain wilayah jakarta pusat.
    suasana pedesaan masihlah sangat kentalnya.
    sungai2 masih bersih, tanah lapang terbuka masih sangat luas dan, pepohonan serta rerumputan begitu menyejukkan.

    karena itulah, kenangan masa kecil yg dirasakan anak2 desa, juga sy merasakannya.
    oleh sebab, itu, saat terbangun terbangun kenangan masa kecil dulu, jiwa serasa tidak mampu menerima perubahan yg terjadi. hingga, kadang tanpa disadari air mata meleleh dalam mengingat saat2 indah itu…

    1. Rojin Sabas Pitaha
      Rasanya kenangan masa kecil itu tak ada habisnya bila diceritakan.

      Terimakasih sudah berkunjung.

      Salam

Leave a comment

Tinggalkan Balasan ke rojin sabas pitaha Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *