Belajar empati, sabar dan ikhlas dari Pengemudi UberPool.

 

Saat mengantar Rizqy ke RS Sumber Waras tiga minggu yang lalu, saya memakai UberPool. Sebuah kebetulan juga pengemudi UberPool tersebut juga bernama Dian. Maka jadilah ada dua Dian yang berada di mobil tersebut ­čÖé

Sedikit tentang UberPool adalah, Taksi online yang pengemudinya boleh menaikkan penumpang tambahan di sepanjang perjalanan, asal satu jurusan dengan penumpang yang naik duluan.

Sampai di Daan Mogot naik satu penumpang, wanita usia sekitar 60an. Saya yang tadinya di depan di samping sopir, pindah ke belakang sopir, nggak enak juga menyuruh ibu itu duduk di belakang dekat Rizqy yang masih sempat muntah beberapa kali.

Sampai di RS Sumber Waras, kami turun. Saya mengatakan kepada sopir mau ke ATM dulu, karena memang selama dalam perjalanan tidak sempat mengambil uang untuk ongkos yang jumlahnya Rp. 112.000,- Mendengar omongan saya, sang sopir mengatakan tidak usah saja, nanti transfer saja ke rekening dia. Nanti dia akan mengirim SMS nomor rekeningnya kepada saya. Mendengar hal itu saya pun tidak jadi ke ATM, dan sopir tersebut melanjutkan perjalanan mengantarkan penumpang tambahan tadi.

Sampai sore lalu malam hari, saya belum menerima sms dari sang sopir. Lalu saya kirimi dia SMS, agar segera mengirimi saya nomor rekeningnya, jawabannya: “Saya masih di jalan, belum sampai ke rumah, soalnya itu nomor rekening istri saya, saya nggak hafal…”

Karena begadang menunggui Rizqy, akhirnya sakit saya yang kena 4 hari sebelum Rizqy sakit, yang tadinya sudah mulai agak baikan, kembali kambuh lagi malah bertambah dengan serangan batuk yang membuat orang yang seruangan dengan Rizqy nggak nyaman dan merasa terganggu. Hal itu juga membuat saya lupa dengan hutang saya kepada Dian si pengemudi UberPool. Celakanya lagi, komunikasi SMS saya dengan dia juga tak sengaja terhapus saat saya menghapus SMS lainnya.

Sakit saya yang berlarut setelah Rizqy pulang, membuat saya semakin lupa dengan sopir Uber tersebut. Dan itu baru teringat setelah saya benar-benar sembuh, namun saya kebingungan bagaimana menghubungi dia.

Kemarin, saya menanyakan nomor HP dia ke admin Uber melalui DM di Twitter. Sang admin tidak mau memberikan data nomor HP tersebut karena melanggar peraturan.

Tadi pagi saya lalu melihat komunikasi panggilan telepon pada tanggal saat Rizqy masuk ke RS, yaitu 29 Juli. Repotnya lagi lebih dari sepuluh nomor yang tak terdaftar di kontak HP saya, muncul di tanggal tersebut, tambah bingung! Sambil dalam hati bertanya, yang mana nomor dia?

Setelah berfikir dan mereka-reka cukup lama, sambil melihat deretan nomor asing yang tidak terdaftar itu, saya lalu mendapat inspirasi. Komunikasi lewat telpon pertama saya hari itu adalah dengan sopir taksi tersebut, yaitu jam 06.12 pagi, saat dia menanyakan posisi dimana kami berada menunggu dia. Saya lalu menghubungi dia, Alhamdulillah dia rupanya sudah menyimpan nomor HP saya, sehingga langsung menyapa dengan akrab. Saya langsung saja menanyakan kenapa nomor rekening bank dia belum juga di SMS ke saya. Lalu dijawab: “Nanti sore ya pak, saya sudah jalan dan nomor rekeningnya ada di rumah…!” katanya. Lalu saya katakan, jangan sampai lupa lagi mengirimnya lewat SMS, lalu pembicaraan pun selesai.

Sore harinya dia mengirim SMS yang mengatakan, bagaimana kalau uangnya dijemput ke rumah saja. “Sambil silaturahmi”, katanya. Sayapun mengatakan “Ok, silakan ambil ke rumah dan minta sama ibu!” kata saya. Soalnya saya saat ini masih di Jakarta dan tidak pulang karena pagi besok (22/8) harus mengikuti acara lagi, dan tidak bakalan keburu kalau saya berangkat dari rumah di Tangerang.

Tidak lama kemudian dia mengirim SMS lagi: “Pak, uangnya sudah saya terima Rp. 120.000,- terimakasih, pak!”

“Oke, terimakasih kembali, maaf ya Dian, saya terlambat membayarnya…”

“Nggak apa2, pak!” Balasnya

“Semoga berkah untuk keluarga…”

Akhirnya saya lega juga, hutang ongkos taksi itu sudah terbayar. Sayapun cukup respek dengan apa yang dilakukan sopir taksi tersebut, yang mungkin dia berfikir tidak mau mengganggu saya dengan tagihan taksinya, dengan tidak buru-buru menghubungi saya atau mengirimkan nomor rekening bank-nya!

Terimakasih dan salut untuk Anda bung Dian Indrawan…

Join the Conversation

2 Comments

  1. Kadang, hal yang gak terduga justru kamu temukan di sisi jalan pedesaan. Misalnya, kamu menemukan warung soto sederhana yang ternyata enak banget dan murah meriah. Atau, ada panorama menakjubkan yang pas banget buat dipasang di instagram. Sama halnya saat kamu keluar dari zona nyaman , di situlah pengalaman tak terduga muncul dengan cara yang menyenangkan.

    1. HDpape
      Benar, kita sering menemukan kejutan di situasi atau suasana yang tak pernah terpikirkan sebelumnya, sehingga kejutan itu menjadi kenangan yang membekas

      Salam

Leave a comment

Tinggalkan Balasan ke Hdpape Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *