Baru Seminggu Sekolah, Aku dipindahkan

Sekolah Dasar Hilir Lama yang sudah direnovasi dengan bangunan baru. Bekas tapak bangunan lama terlihat di halanan sebelah kanan

Setelah berapa hari aku sekolah di SD Hilir Lama, aku pergi ke Guguak Rang Pisang, rumah keluarga ayahku, karena aku sudah kangen hendak pergi ke sana. Dengan memberitahu adik sepupuku Fitrizal, pulang sekolah aku langsung pergi ke sana berbarengan dengan anak-anak murid yang rumah orang tuanya di Guguak Rang Pisang. Mereka semua kenal aku sebagaimana aku juga mengenal mereka, karena boleh dikatakan aku hidup bergantian diantara dua kampung ini.

Sebelum pergi ke Guguak Rang Pisang, di Ladang Darek beberapa hari sebelumnya, aku sudah mendengar bahwa aku akan di pindahkan ke Payakumbuh. Katanya aku akan di masukkan ke panti asuhan yang ada di sana. Orang yang akan mengantarkan aku ke panti asuhan itu, namanya amai Tiara. Masih ada hubungan keluarga dengan kami. Tapi rumahnya jauh di Ladang Panjang, sekitar dua kilometer dari rumah kami di Ladang Darek. Persis di kaki Bukit Barisan, antara Jorong atau Desa Solok dengan Jorong Binu. Tempat dimana asal-usul nenek moyang keluarga kami, sebelum pindah ke Ladang Darek.

Amai atau bibi Tiara ini sering bolak balik antara kampung ke Payakumbuh. Ini karena seorang anak perempuannya juga merantau bersama suaminya ke Payakumbuh. Suami anaknya yang juga seorang Datuk atau kepala Suku di Minangkabau, mempunyai toko perabot rumah tangga di sana.

Sampai di Guguak Rang Pisang, keluarga di sana rupanya juga sudah mengetahui tentang hal ini. Ketika salah seorang diantaranya menanyakan padaku, apakah aku mau masuk panti asuhan. Karena pernah pergi merantau sebelumnya dan sudah merasakan bagaimana hidup di rantau, aku hanya tinggal menganggukkan kepala tanpa banyak berkata maupun bertanya lagi. Aku juga merasakan, bahwa tinggal di kampung ini juga hanya tinggal sendiri, karena kakak-kakakku yang laki-laki maupun yang perempuan juga telah pergi merantau semua.

Hari keberangkatanku ke Payakumbuh sudah ditetapkan, yaitu hari Minggu, pas disaat libur sekolah, tapi aku belum diberitahu. Makanya selama menunggu beberapa hari itu, aku tetap dibiarkan pergi ke sekolah. Hari Minggu, pagi-pagi aku dimandikan oleh etekku, adik ayahku yang paling kecil yang saat itu satu-satunya yang belum menikah. Selesai mandi pakaianku di ganti dengan bersih. Suatu yang menguntungkanku punya dua rumah adalah di kedua tempat itu aku punya salinan, walau hanya beberapa lembar.

Selesai bersalin aku  di suruh makan, sebagaimana kebiasaan keluarga kami di sana. Makan pagi dengan nasi yang masih mengebulkan uap panas, untuk melawan hawa dingin Bukit Barisan.  Setelah sarapan, sebuah bungkusan kecil dengan memakai serbet di serahkan ke tanganku. Isinya pakaianku sehari-hari yang hanya beberapa pasang.

Pada saat yang sama, orang yang akan mengantarkanku, juga sudah siap. Beliau suami dari kakak ayahku tertua, namanya Musaham. Sehari-hari aku memanggil beliau dengan panggilan pak Uwo, yang artinya pak tua. Tapi di lingkungan keluarga maupun kampung, beliau di panggil Katik Basa yang sering disingkat Katik. Nama itu adalah gelar adat sebagai mana lazimnya pria dewasa yang telah berkeluarga di Minangkabau, mereka akan diberi gelar adat. Gelar inilah yang wajib di pakai dalam pergaulan sehari-hari, untuk di panggil oleh orang-orang yang berhubungan dengan dia.

Setelah semua siap, akupun berpamitan dengan seluruh keluarga yang ada di rumah gadang itu. Turun dari rumah gadang, Inyiak Aki dan inyiak Uci alias kakek dan nenekku beserta keluarga yang lain, seperti Tuo, AngahEtek serta pak Angah suami Angah, melepas aku berjalan dengan pandangan yang aku tak mengerti artinya.

Sampai di halaman rumah, pak Uwo tidak berjalan lurus melewati jalan kecil yang menuju jalan raya di depan masjid Sofia, tapi beliau mengajakku memutar kekiri melewati samping rumah gadang. Rupanya pak Uwo mengajakku melewati jalan pintas melewati perkebunan yang ada di belakang rumah gadang. Dari sudut belakang rumah gadang, kami menaiki beberapa undakan anak tangga tanah yang ditopang dengan bambu agar tidak longsor. Kami melewati halaman rumah aciak Rohan, tetangga terakhir sebelum kami melewati kebun-kebun yang ada di belakang rumahnya. Rumah itu lebih tinggi dari rumah kami, karena terletak di atas tebing di belakang rumah keluarga ayahku.

Kami berjalan melewati samping rumah bertipe bungkus nasi itu, terus kebelakang dan mulai melewati jalan setapak di tengah kebun yang ditumbuhi beraneka tanaman pisang, durian, manggis, mangga, alpukat dan pepohonan lain yang tidak menghasilkan buah-buahan. Di antara pepohonan itu, sering di tanam tanaman muda seperti jagung, kacang tanah, bayam, terong, cabe, kacang panjang, singkong maupun ubi jalar. Jalan setapak itu berujung di sebuah tabek atau tambak ikan. Kami berjalan di pematang yang membatasi tabek yang satu dengan yang lainnya, atau antara tabek dengan sawah.

Diantara tabek itu terdapat banda, atau selokan yang berfungsi sebagai saluran air irigasi yang mengairi tabek maupun sawah yang ada disekitarnya. Sumber air ini berasal dari Bukit Barisan yang berada di belakang kami, air yang mengalir di banda tersebut begitu jernih, sehingga aku dapat melihat ikan-ikan kecil berenang dan bermain di sana.

Kami mengikuti aliran banda, di sebelah kiriku ada 3 tabek yang berjejer dan di  kanan ada dua. Pemilik tabek ini berbeda-beda, salah satu diantaranya milik keluarga ayahku. Bila libur sekolah, aku sering diajak memancing di sini oleh Azwar, anak pak Uwo yang aku panggil tuan Wan.  Disamping memancing ikan, kami juga sering memancing belut di dinding pematang tabek, atau mencari siput untuk digulai teman makan nasi. Selepas melewati tabek terakhir, di depan kami lalu terbentang sawah yang menghampar luas.

Padi-padi yang sedang menguning itu berayun lembut di tiup angin, daun serta butir padinya yang semakin bernas, basah oleh embun yang menempel. Matahari masih bersembunyi di balik bukit barisan, dia baru akan menyinari desa Guguak Rang Pisang ini nanti menjelang jam 9.

Kakiku basah karena menginjak embun yang menempel di rumput yang tumbuh di pematang banda yang kami lewati, ditambah lagi embun yang menempel di daun padi di sawah yang terjulur ke pematang itu,  juga meninggalkan rasa perih di kakiku karena sayatan daunnya. Tapi karena sudah terbiasa aku tak begitu menghiraukannya, karena nanti bila air yang menempel di kakiku sudah kering, rasa perih itu akan hilang sendiri.

Setelah mengikuti aliran banda yang mengalir membelah persawahan yang airnya bermuara di agam atau sungai, kami kemudian belok ke kiri. Berjalan di atas pematang di pinggir agam itu, yang berakhir di jalan raya. Kami lalu belok kanan melewati jembatan. Perjalanan menuju masa depan itupun dimulai…

Bersambung ke

Perjalanan Menuju Masa Depan…

Menyeberang Sungai Dengan Titian Bambu

Tian Bambu ini bukanlah di kampung saya. Disini terlihat bambu buat pijakannya ada dua, sementara yang titian bambu yang biasa saya lewati hanya satu.  Foto: Zozu.site @escapeartist.neverdie

 

Guguak Rang Pisang dan Koto Kaciak merupakan dua Jorong atau Desa yang bertetangga di Nagari Kamang Ilia, Bukittinggi. Keduanya dipisahkan oleh agam atau sungai yang mengalir berliku dari utara ke selatan. Kedua jorong ini dihubungkan oleh sebuah jembatan yang terdapat di simpang tiga Tarok, Koto Kaciak dan Guguak Rang Pisang. Walau bertetangga namun perkampungan peduduk keduanya cukup berjauhan. Karena selain sungai, keduanya juga dipisahkan oleh persawahan yang membentang cukup luas.

Persawahan yang luas dan bertumpak-tumpak ini, dimiliki oleh penduduk di kedua jorong dengan luas yang beragam setiap tumpaknya. Bila musim hujan tiba dan sawah mulai diolah untuk bertanam padi setelah sebelumnya diselingi dengan tanaman palawija seperti kacang tanah, jagung, ubi dan kadang juga sayuran, seperti kacang panjang, bawang dan buncis serta kedelai yang oleh penduduk setempat disebut kacang ramang.

Untuk memperpendek jarak tempuh, karena harus memutar saat melewati jembatan bila ingin ke sawah, warga Koto Kaciak membuat sebuah jembatan atau lebih tepatnya titian sederhana dari pohon bambu. Setelah rantingnya dibersihkan, pohon bambu tersebut di bentangkan di atas sungai.

Titian ini terdiri dari dua batang bambu. Satu batang untuk pijakan, dan satu batang lagi di buat lebih tinggi sekitar sepinggang orang dewasa yang berfungsi sebagai alat untuk berpegangan. Jadi bila menyeberang, kaki menginjak bambu sebelah bawah dan sebelah tangan memegang bambu yang sebelah atas untuk menjaga keseimbangan. Bambu yang di pakai untuk titian ini sengaja diambil dari hutan Bukit Barisan yang memang tidak jauh dari sana. Bambunya cukup besar dan panjang, hingga cukup untuk dibentangkan memotong lebar agam yang hampir 8 meter.

Saat mengaji di surau Koto Kaciak, aku adalah satu-satunya murid yang datang dari Guguak Rang Pisang. Pulang pergi mengaji dari Karan, dusun tempat rumah keluarga ayahku berada. Berjalan di atas pematang, aku melewati hamparan sawah luas yang membentang antara Guguak Rang Pisang hingga ke pinggiran agam, yang di seberangnya terletak jorong KotoKaciak dimana masjid Nurul Huda dan surau tempat aku mengaji berada.

Bagi yang belum pernah menyeberang memakai titian ini, memang menimbulkan rasa sensasi dan kengerian sendiri, karena mata akan terpengaruh oleh air sungai yang mengalir di bawahnya. Apalagi bila musim hujan, hingga air sungai cukup tinggi yang kadang-kadang permukaannya menyentuh titian ini. Dibutuhkan keberanian ekstra untuk tetap menyeberang melalui titian ini.

Begitu juga bila menyeberang berdua atau bertiga, dibutuhkan tehnik sendiri untuk menjaga keseimbangan dan ayunan langkah dalam meniti di titian ini. Bila langkahnya tak seirama, maka titian ini akan berayun tak beraturan, yang bisa berakibat terpeleset dan jatuh ke sungai dengan segala macam resikonya.

Tapi setiap rombongan juga akan melihat berapa orang maksimal yang bisa sekaligus melewati titian ini, dengan melihat lengkungan titian bambu yang terinjak para penyeberang. Bila tidak mungkin dan membahayakan, maka mereka akan bersabar menunggu hingga rombongan yang di depannya tuntas ke seberang, atau ketika titian bambu sudah kembali pada posisi yang tidak begitu mengkhawatirkan.

Biasanya penduduk yang sudah berpengalaman, akan membiarkan mereka yang belum pernah atau masih gamang menyeberang di titian ini menyeberang sendirian. Karena kalau sendiri beban titian ini tidak begitu berat dan ayunannya juga tidak seberapa.

Pertama kali menyeberang melewati titian bambu ini karena terpaksa. Karena keasyikan bermain pulang sekolah, aku terlambat sampai di rumah. Setelah makan dengan buru-buru, aku berjalan cepat di atas pematang dan melewati sawah yang luas itu dan kemudian nekat melewati titian bambu tersebut. Karena bila harus melewati jembatan aku akan semakin terlambat karena jalannya memutar, resikonya aku akan kena cambuk pakai rotan di telapak kaki.

Dengan perasaan campur aduk antara takut kena cambuk guru ngaji dan takut jatuh ke dalam sungai, pelan-pelan aku berjalan di atas titian bambu itu. Bila orang dewasa meniti dengan berpegang ke bambu hanya dengan satu tangan dan berjalan tetap lurus ke depan, maka aku meniti dengan berjalan menyamping. Kedua tanganku memegang bambu yang di atas dan kakiku beringsut bergeser menyamping sedikit demi sedikit menginjak bambu yang di bawah. Aku berusaha agar titian yang aku injak di sebelah bawah maupun yang ku pegang di sebelah atas tidak bergoyang, agar aku bisa menjaga keseimbangan tubuhku agar jangan sampai jatuh ke sungai, yang akibatnya tentu akan semakin buruk.

Aku cukup beruntung saat itu, karena tidak ada orang lain yang juga akan ikut menyeberang. Sehingga aku bisa lebih fokus menjaga keseimbangan dan menjaga agar titian itu tidak bergoyang. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi bila teman-teman ada yang melihat aku menyeberang di titian. Mereka pasti akan menakut-nakuti aku sambil tertawa-tawa dengan menggoyang titian yang aku lewati.

Aku tidak tahu berapa menit yang aku lewati saat melintasi titian yang panjangnya hanya 8 meter itu. Rasa takut yang diiringi oleh mengucurnya keringat yang membasahi baju, kaki yang gemetar saat bergeser selangkah demi selangkah. Aliran air sungai seakan menatapku sambil siap menangkap lalu menghanyutkan dan menenggelamkan aku bila jatuh, ikut membuat nyaliku semakin ciut. Tapi bayangan cambuk rotan yang akan hinggap di telapak kakiku, menghilangkan bayang-bayang dan ketakutanku, sehingga aku berusaha menyeberang dan menggeser kakiku lebih cepat lagi yang membuat titian yang kuinjak maupun yang aku pegang ikut yang bergoyang yang memaksa aku memperlambat langkahku lagi.

Aku menarik nafas panjang begitu sampai di seberang, lalu berlari sekencangnya menuju surau. Tak seorangpun teman yang terlihat di halaman atau di jalan menuju surau, aku benar-benar terlambat…

Dengan dada berdebar dan baju yang sudah basah oleh keringat aku menaiki tangga surau, sambil membayangkan rotan yang akan hinggap di kakiku dengan kekuatan dan kecepatan penuh. Begitu aku terlihat masuk dari pintu semua teman melihat kepadaku. Ada yang tersenyum sambil mengayunkan tangannya seakan sedang memegang rotan yang siap dipukulkan ke kakiku. Ada juga yang melihat ke arah guru, mungkin juga sambil membayangkan guru ngaji itu akan segera menjatuhkan hukuman.

“Plak…!”

Bunyi rotan yang dipukulkan ke lantai surau yang terbuat dari papan, begitu nyaring terdengar. Mengalahkan suara-suara yang tadinya berisik dan membuat semua yang berada di dalam surau itu terkejut, serta secara serentak kembali mengalihkan pandangan mereka ke Al-Qur’an di hadapan masing-masing, sambil sesekali mata mereka melirik kearah guru ngaji serta rotan yang berada di tangannya.

Setelah mengucapkan salam, aku mengambil Al-Qur’an di rak yang ada di dinding surau, lalu duduk di samping teman yang menggeser badannya untuk memberikan tempat duduk untukku.

Tidak ada pertanyaan untukku dari guru ngaji sebagaimana biasanya ditanyakan kepada setiap murid yang terlambat. Dengan perasaan yang tidak karuan, aku membuka Al-Qur’an di hadapanku. Aku tidak berani melihat ke arah guru ngaji, begitu juga ke teman-teman lainnya. Aku berusaha khusyuk saat membaca ayat Qur’an yang ada di hadapanku, namun sesekali bayangan rotan itu melintas juga di hatiku.

Hingga waktu ngaji kami usai dan kami bubar kembali ke rumah masing-masing, tidak ada sabetan rotan yang hinggap di kakiku. Teman-teman sambil bisik-bisik karena tidak ingin terdengar oleh guru ngaji, mempertanyakan hal itu. Tapi pertanyaan itu tak terjawab dan bisik-bisik itu segera bubar saat mendengar suara bel sepeda guru ngaji melewati kami. Seperti biasa, aku pun berjalan cepat mendahului teman-teman, agar aku tidak kemalaman sampai di Guguak Rang Pisang.

Tapi kini titian itu sudah tidak ada lagi, saat aku pulang dan berkelana di Ranah Minang tahun 2010 lalu, titian itu sudah berganti dengan jembatan  sederhana yang juga masih terbuat dari bambu seperti kelihatan pada foto di bawah. Tapi bambu yang dibentangkan di atas sungai itu berjajar cukup banyak, sehingga membentuk jembatan selebar sekitar satu meter dan di atasnya diberi alas dengan anyaman bambu, begitu juga di samping kiri kanan dipasang jaring pengaman, sehingga lebih nyaman untuk diseberangi.

Disinilah lokasi titian bambu itu. Tapi titian bambu itu kini sudah berganti bentuk menjadi sebuah jembatan sederhana yang juga terbuat dari bambu.

 

 

 

 

Berkelana di Ranah Minang (1)

Artikel pengelanaan saya di Ranah Minang plus Riau ini pernah saya posting di Kompasiana 1 Desember 2010. Tapi karena jadwal posting yang kurang beraturan, maka  saya posting lagi di blog ini dengan beberapa perbaikan dan tambahan informasi. Selamat menikmati.

Tersendat menjelang masuk Bandara Soekarno Hatta

Untuk suatu tugas, saya harus meninggalkan Jakarta. Agar tak kesepian di jalan, saya akan mengajak Anda para pembaca mengikuti perjalanan saya yang mungkin akan memakan waktu sekitar sepuluh hari. Tapi walaupun saya mengajak Anda, kalau tiba giliran di potret hanya sayalah yang akan tampil, hehehe…  Anda sekalian cukup menikmati saja. Kecuali kalau nanti di perjalanan saya bertemu dengan teman atau kompasianer lain, barulah dia akan saya tampilkan. Jadi nggak usah ngiri ya…! 🙂

Perjalanan saya ini di sponsori seorang kompasianer bernama Nurul Musyafirah, yang kebetulan juga putri sulung saya, seorang muka baru di Kompasiana. Mahasiswa jurusan Broadcasting di salah satu perguruan tinggi di Jakarta, ibu dengan satu anak, dengan aktifitas sebagai Freelance Presenter.

Dengan konfirmasi penjemputan yang mendadak di saat saya masih asyik internetan dan facebook-an, saya terpaksa hanya memakai kaos oblong menuju bandara Soekarno-Hatta. Belum semua perlengkapan perjalanan sempat di masukkan ke dalam backpack saya, sehingga, karena harus buru-buru agar cepat, semuanya dimasukkan saja ke dalam kantong plastik berukuran cukup besar, baru nanti dirapikan lagi di bandara Soekarno-Hatta.

Segalanya harus gerak cepat, karena jemputan sudah datang dan tak bisa menunggu lama. Karena mobil yang saya tumpangi adalah mobil teman menantu saya yang juga akan berangkat ke Padang, tapi dengan pesawat yang berbeda dengan jadwal yang berbeda juga dengan pesawat yang saya tumpangi. Dia satu penerbangan lebih awal dari saya.

Adi sang pemilik mobil, mengantarkan sepupunya Dessy dengan jadwal penerbangan jam 11.00. sementara jam sudah menunjukkan angka sembilan lewat beberapa menit.

Tanpa sempat bersalaman dengan si kecil Rizqy dan bundanya, kami meninggalkan rumah di Tomang.

Baru saja keluar dari jalan Gelong Baru memasuki jalan S. Parman, bayang-bayang kemacetan telah menghantui kami. Deretan mobil yang terganjal lampu merah persimpangan Tomang, membuat jantung berdegup lebih kencang. Tapi untunglah jalur yang akan kami pakai untuk memutar di bawah kolong jalan layang Tomang, lumayan lancar. Sehingga kami dapat memutar balik arah menuju Grogol.

Tapi kami juga belum bisa menarik nafas lega, karena jalan S. Parman sejak dari depan Mall Taman Anggrek hingga ke persimpangan Grogol kembali mengganjal perjalanan kami. Untuk menghindari situasi keterlambatan yang lebih parah, kamipun mengikuti mobil yang berada di depan masuk jalur busway, hal ini membuat suasana hati lumayan lega. Karena mobil bisa melesat lebih kencang hingga persimpangan Grogol.

Alhamdulillah sejak dari Grogol hingga ke bandara mobil bisa melaju cukup kencang, hanya tersendat sedikit ketika akan memasuki terminal bandara. Pukul 10.20 kamipun sampai di terminal B1 bandara Sekarno Hatta.

Setelah melepas teman yang akan terbang duluan, saya lalu membenahi bawaan saya yang masih berantakan di kantong plastik ke dalam backpack. Karena jadwal penerbangan saya masih sekitar dua jam lagi, saya bersama anak, menantu dan cucu yang ikut mengantar bermain-main di sekitar bandara.

 

12911680691139000104
Trio Pengantar

12911682911670804543
Mejeng di Balkon pengantar rombongan

 

1291168422629175429
Yang mau ditumpangi sudah parkir, penumpangnya masih asyik bernarsis ria…

 

12911686192099045339
Mereka yang mengantar, anak, menantu dan cucu…

 

12911687201860355689
Selamat jalan kakeeek….

Kapiradan, Biar Kebal Pukulan

 

Waktu di kampung, sebelum masuk Panti Asuhan, aku punya dua surau untuk mengaji.

Bila aku di Ladang Darek, rumah keluarga ibuku. Aku mengaji di Surau Binu dengan guru mengaji bapak Labai Rukun. Bila aku di rumah keluarga ayahku di Guguak Rang Pisang, aku mengaji di surau Koto Kaciak.

Keunikan kedua surau ini adalah sama-sama berada di pinggir agam atau sungai yang mengalir sepanjang nagari Kamang Ilia. Apalagi surau Binu, yang benar-benar berada di bibir sungai, sehingga untuk mengambil wudhuk jamaah tinggal nyemplung ke sungai yang di pinggirnya sudah dibuatkan bertangga batu hingga ke dasar sungai.

Sedangkan surau Koto Kaciak berjarak sekitar 50 meter dari pinggir sungai, di batasi jalan dan dua rumah penduduk serta Masjid.

Sewaktu masih mengaji di Surau Koto Kaciak, kami punya guru yang cukup keras dan tegas.

Sebilah rotan sebesar jari kelingkingku yang di kampungku disebut dengan rotan mancik dengan panjang hampir satu meter, selalu mendampingi beliau bila sedang mengajar kami. Suara rotan yang menyentak ketika di pukulkan ke lantai surau yang terbuat dari papan untuk mendiamkan teman-teman yang berisik, sering membuat kami terkejut dan terdiam mati kutu.

Rotan ini akan berbicara bila tak bisa atau salah dalam menjawab, ketika tiba-tiba salah seorang diantara kami disuruh membaca atau menunjukkan surat atau ayat yang sedang dibaca teman yang dapat giliran membaca.

Bila hal ini terjadi, maka mau tidak mau, suka tidak suka atau ikhlas tidak ikhlas, silakan menyerahkan telapak tangan menghadap sang guru. “Plak….” Suara lecutan rotan yang hinggap di telapak tangan, akan memecah kesunyian di tengah murid-murid lain yang terdiam menyaksikan.

Rotan ini akan hinggap di punggung tanpa di duga, bila ada teman-teman asyik mengobrol dan dengan diam-diam sang guru akan mendekati dari belakang.

Untuk menghadapi situasi tak terduga ini, bila pergi mengaji, dari rumah anak-anak yang biasa jadi biang berisik ini membuat benteng pertahanan. Ada yang mengganjal punggungnya dengan koran bekas atau buku, atau memakai jaket, padahal sedang panas terik jam dua siang!

Satu cara lagi tehnik untuk menghindari sakit kena sabetan rotan pada telapak tangan, adalah dengan cara duduk bersimpuh.

Sewaktu duduk bersimpuh ini, kedua tangan di jepit diantara paha dan betis atau tepatnya diduduki. Maksudnya agar kedua telapak tangan mengalami kapiradan atau kesemutan. Dalam kondisi kesemutan ini sabetan rotan tak begitu terasa, walau ujung-ujungnya ketika tangan sudah normal, rasa sakit itu tetap ada dan bagian telapak yang kena pukulan rotan itu tetap saja berwarna kemerahan.

Tapi untungnya punya guru yang tegas dan keras ini, membuat kami cepat menangkap pelajaran, karena frekwensi bercanda dalam waktu belajar itu semakin berkurang. Konsentrasi terhadap pelajaran semakin tinggi, karena tidak ingin “sarapan ketiga” dengan pukulan rotan, dan pulangnya membawa oleh-oleh telapak tangan berwarna semu kemerahan.

Tapi trik membuat tangan kapiradan ini lama-lama ketahuan. Bila menemukan murid yang melakukan trik ini, sang guru bukan melecut telapak tangan yang sudah “siap menerima serangan” ini, melainkan meminta sang murid menjulurkan kakinya, kemudian: “plak!, plak….!” Suara rotan mendarat di telapak kakipun bergema di tengah ruangan surau.

Pukulan di telapak kaki inipun mendapat bonus. Bila yang di pukul telapak tangan pukulannya hanya satu kali, maka ketika rotan itu mendarat di telapak kaki pukulannya di tambahi bonus satu kali pukulan lagi, menjadi dua pukulan dengan kekuatan ayunan yang juga ada bonusnya, hingga begitu mendarat di telapak kaki jauh lebih sakit bila dibandingkan dengan pukulan ke telapak tangan.

ASUS ZenBook S UX391, Impian para Blogger Petualang

ASUS ZenBook S

Slim

Dengan ketebalan keseluruhan hanya  12.9 mm dan panel  5.9 mm, membuat  laptop ini begitu ringan dan nyaman  dibawa kemana saja.

Supreme

Semua komponen perangkat kerasnya  kelas atas, menjadikannya laptop tangguh. Lihat saja prosesornya Intel i7 keluaran terakhir, harddisk  seri SSD berkapasitas 512 GB yang dapat ditingkatkan hingga 3.2 TB, Full High Definition display, serta perangkat Thunderbolt 3. Dengan kondisi seperti ini, kita bagaikan tentara yang siap tempur dengan senjata paling canggih untuk meraih kemenangan dimedan perang dunia maya.

Desain ErgoLift Yang Inovatif

Kecantikan ZenBook S UX391 memang menjadi salah satu kelebihannya. Namun sebenarnya yang paling menarik adalah digunakannya desain inovatif bernama ErgoLift yang mampu membuat penggunanya nyaman ketika mengetik. Bahkan untuk bisa membuatnya, ASUS sampai membuat rangkaian tes khusus demi mendapatkan angka yang tepat.

Desain ErgoLift mengangkat posisi keyboard yang biasanya rata dengan permukaan meja sedikit ke atas. Melalui bantuan ujung monitor bagian bawah yang sengaja dibuat lebih dari ukuran keyboard, sudut keyboard tersebut menjadi 5.5 derajat. Hasilnya, penggunanya akan lebih nyaman ketika mengetik di ZenBook S UX391 karena posisi keyboardnya agak diangkat.

Bukan hanya membuat penggunanya mengetik dengan nyaman, desain ErgoLift juga membantu sistem pendingin ZenBook S UX391. Karena adanya ruang di bagian bawah laptop, sistem pendinginnya mampu membuang udara panas dengan efisien. Pada bagian dalamnya,sistem pendinginan tersebut dilengkapi oleh kipas liquid-crystal-polymer dengan 71 daun kipas. Berkat bantuan sistem pendingin tersebut, laptop ini mampu berjalan dengan suhu 5°C lebih dingin dibandingkan model ZenBook sebelumnya.

ErgoLift juga membantu ZenBook S UX391 untuk menghasilkan suara yang maksimal. Karena suaranya dihasilkan dari speaker Harmon Kardon yang ada di bagian bawah laptop, maka sudut yang mengangkat bagian bawah laptop membuatnya bisa menembakkan suara ke permukaan meja. Ditambah adanya amplifier pintar yang mampu menyesuaikan level maksimum volume sesuai dengan keadaan sumber suara, membuat kualitas suaranya dijamin baik oleh ASUS.

Layar 4K Dengan Bezel Tipis

Layar ZenBook S UX391 yang berukuran 13.3 inci ternyata dilengkapi pula oleh resolusi yang besar. Dengan dukungan layar sentuh 4K dan ruang warna 100% sRGB, ditambah dengan contrast ratio 1500:1, laptop ini mampu menghasilkan reproduksi warna yang alami. Besarnya contrast yang dimilikinya, laptop ini mampu menghasilkan hitam dan putih yang jelas dan tajam. Hal ini tentu sangat menguntungkan ketika penggunanya sedang mengedit photo dan video.

Demi lebih memantapkan visualnya, ZenBook S UX391 juga menipiskan bezel yang membungkus tepian layar. Dengan ukuran hanya 5.9mm, ukuran layarnya mencapai 85% dari ukuran total badan laptop. Ditambah dengan sudut pandang layar sebesar 178 derajat, dukungan 10-point multi-touch, ASUS Pen, dan Windows Ink, laptop ini siap untuk digunakan sebagai platform editing visual. Kenyamanan menonton film didukung oleh teknologi ASUS Tru2Life Video yang menganalisa setiap pixel di setiap frame video untuk meningkatkan contrast, sharpness, dan kenyamanan menonton.

Tenaga Besar Di Dalam Tubuh Yang Kecil

ZenBook S UX391 memiliki tubuh yang ringan dan tipis, yaitu hanya seberat 1.04Kg dan ketebalan 12.9mm, laptop ini mampu menghasilkan kinerja yang cukup tinggi. Pada bagian prosesornya, laptop ini dilengkapi oleh Intel Core i7-8550U. Berkat prosesor dengan 4 core dan 8 thread tersebut, laptop ini mampu digunakan untuk mengedit photo dan video dengan optimal.

Untuk urusan memory, ZenBook S UX391 dilengkapi oleh RAM hingga 16GB 2133MHz LPDDR3 yang berkecepatan tinggi. Nilai plus dari digunakannya memory tersebut adalah rendahnya penggunaan daya, sehingga membuat laptop ini hemat daya. Pada bagian storage, laptop ini memiliki opsi hingga SSD 1TB sehingga membuat booting Windows dan menjalankan file berukuran besar menjadi cepat.

Beragam Koneksi Eksternal

Untuk urusan port eksternalnya, ZenBook S UX391 ternyata cukup serius. Laptop tipis ini dilengkapi dengan 3x USB Type-C, dua di antaranya mendukung Thunderbolt 3 dan semuanya mendukung fast-charging dan output display. Fungsi port Thunderbolt 3 membuat penggunanya bisa menggunakan hingga 2 buah layar 4K 60Hz tambahan, dan juga mendukung penggunaan solusi platform graphics eksternal seperti ASUS XG Station Pro. Dengan demikian, penggunanya dapat menggunakan laptop ini sebagai laptop gaming dan 3D rendering.

Pada bagian koneksi jaringannya, ZenBook S UX391 dilengkapi dengan dual-band 802.11ac Wave 2 Wi-Fi dengan kecepatan hingga 1734Mbps. Besarnya kekuatan jaringan wireless tersebut membuat penggunanya dapat dengan mudah menonton streaming video UHD 4K secara online.

 

Kisah Terakhir di Surau Binu

Surau tempat kami mengaji yang berada di samping kanan Masjid Nurul Huda, Koto Kaciak. Atap seng yang berkarat memperlihatkan usia surau ini yang sudah tua.

Setelah membaca artikel saya yang pertama, salah seorang teman bertanya, kenapa saya sampai mengaji di Binu? Saya bisa mengerti kenapa sang teman bertanya seperti itu, karena saya anak Ladang Darek, tetapi mengaji di Binu. Kenapa tidak di surau Tabiang atau mushalla Miftahul Ulum yang lebih dekat dari rumah?

Waktu sekolah di Sekolah Dasar Hilir Lama, diantara teman sekelas saya punya teman orang Binu, namanya Sopirman. Suatu hari pas waktu pulang sekolah, dia mengajak saya untuk ikut ke rumahnya di Binu. Tanpa berpikir panjang lagi, saya pun mengiyakannya. Bila biasanya ketika pulang sekolah, saya beserta adik sepupu Fitrizal pulang ke Ladang Darek melewati Tanjuang Kudu lalu Koto Sariak dan berakhir di Tangkamang, sebelum sampai di rumah kami di Baburai. Maka siang itu saya beserta Sopirman melewati jalan Rumah Tinggi, Gobah lalu menurun melewati persawahan dan bendungan Batu Bajolang hingga sampai di Binu sejauh lebih kurang 2 kilometer.

Setelah makan siang di rumah orang tua Sopirman dan juga adiknya Agus, dia lalu mengajak saya untuk ikut mengaji di surau Binu. Awalnya saya kurang bersemangat untuk mengikutinya, tapi mau langsung pulang saja ke Ladang Darek saya juga merasa malas, karena belum puas bermain bersama dua bersaudara itu, juga teman-teman yang lainnya yang saat itu juga sudah mulai berdatangan dari rumah masing-masing ke Surau Binu. Yang membuat saya betah bermain bersama mereka juga adalah karena sebelum mengaji dimulai, teman-teman mengajak saya untuk ikut mandi di Batang Agam yang berada di depan surau. Ketika selesai mandi karena guru ngaji sudah datang dan teman-teman sudah berlarian masuk surau, sayapun akhirnya mau juga diajak ikut masuk surau dan mengaji bersama mereka, sebab saya juga tidak ingin tinggal dan bermain sendirian di halaman surau tanpa seorang temanpun. Karena guru mengajinya juga sudah mengenal saya, maka kehadiran sayapun diterima dengan baik. Sebagai murid dadakan dan tanpa persiapan, sayapun lalu dipinjami Al-Quran milik surau. Sejak itu, sayapun secara rutin tiap hari ikut belajar mengaji di sana. Baik ketika tinggal di Ladang Darek, maupun saat bersama keluarga ayah di Guguak Rang Pisang.

Histeris digigit lintah.

Setelah ikut mengaji beberapa lama, musim hujan mulai mengguyur kampung kami. Air yang mengalir di Agam mulai meninggi hingga permukaannya hanya berjarak sekitar satu meter dari jembatan. Tangga batu tempat turun ke dasar agam yang tadinya kelihatan beberapa anak tangga, hanya tinggal satu anak tangga paling atas yang kelihatan. Agam yang biasanya jernih mulai terlihat keruh kecoklatan warna tanah yang terbawa oleh air yang mengalir dari sawah yang juga tergenang oleh air hujan.

Kegembiraan kami mandi di agam tidak terhalang oleh besar dan keruh serta derasnya air yang mengalir. Kami tetap mandi seperti biasa, walau harus lebih berhati-hati menghindari pusaran air agar tidak tenggelam atau hanyut. Sayapun tidak mau ketinggalan sebagaimana teman yang lain. Selesai mandi karena waktu mengaji telah tiba, kami berjalan menuju surau. Saat berjalan saya merasakan ada yang lengket di telapak kaki, saya kira hanya sehelai daun kayu kering, lalu menyapukan kaki ke rumput, namun yang lengket tidak juga lepas. Saat akan melihat untuk mengetahui apa yang menempel di kaki saya, seorang teman berteriak: “Hei, ada lintah di kaki kamu!

Saya paling takut dengan lintah, mendengar teman meneriakkan ada lintah di kaki saya, sayapun dengan perasaan geli dan takut, berlarian dan melompat  berputar tak tentu arah, yang dalam bahasa kampung saya “galinjang-galinjangi”, dengan harapan lintah itu lepas dari kaki saya. Sementara teman-teman semuanya tertawa terpingkal-pingkal melihat saya ketakutan dengan rona wajah yang sulit untuk dijelaskan.

Seorang teman yang sudah terbiasa dengan lintah, lalu menangkap tangan saya. Dia menyuruh saya diam, sementara saya rasanya sulit sekali untuk diam dan tenang. Dia lalu memegang kaki saya dengan tangan kirinya, lalu mengangkat kaki saya dan menekuknya ke belakang hingga telapak kaki saya jelas kelihatan. Dengan beralaskan sehelai daun kayu, dengan tangan kanannya dia lalu memegang dan melepaskan lintah yang sudah gemuk sebesar jari karena menghisap darah itu dari kaki saya, lalu membuangnya ke agam.

Walaupun lintah itu sudah lepas dan tidak lagi menempel di kaki saya, tapi bayangan lintah itu tetap ada dalam memori saya, sehingga bila hal itu teringat, sayapun merinding atau bergidik dengan perasaan takut dan geli. Teman-teman yang lainpun tak henti-hentinya mengetawai saya, sambil sesekali menyentuh kaki saya dengan daun kayu sambil mengatakan; “Ada lintah! yang membuat saya serta merta terkejut dan melompat tidak karuan. Hal itu membuat tertawa teman-teman yang lain semakin ramai. Sementara dalam hati, saya juga merasa kesal bercampur geli. Candaan itu baru berhenti setelah kami semua duduk di dalam surau, melingkar menghadap guru sambil membaca Al-Quran bacaan kami masing-masing. Namun sesekali teman masih suka melirik saya sambil tersenyum geli. Atau teman yang duduk di samping saya mencolek kaki saya dengan benda apa saja yang membuat saya terkejut, dan dia maupun yang lain berusaha menunduk sambil menahan tawa cekikikan agar tidak kelihatan atau kedengaran oleh guru mengaji kami inyiak aki Labai Rukun.

Karena kakak saya Yuslinar ikut merantau ke Padang bersama suaminya, dan saya tinggal sendiri di rumah gadang. Saya lalu pindah dan menetap di Guguak Rang Pisang, tapi sesekali juga pulang ke Ladang Darek dan tinggal bermalam di rumah etek Fatimah Nidar, ibunya Fitrizal dan Azmayetti, atau di rumah amai Nurul Huda, ibunya kak Azizah dan Widadi.

Karena cukup jauh bolak-balik mengaji ke Binu, akhirnya saya pindah mengaji ke surau Koto Kaciak. Namun kenangan mengaji di Binu tetap takkan terlupakan.

 

Menyaksikan Tentara Berburu Kalong

 

Jorong atau Desa Binu yang terletak di kaki Bukit Barisan

Sebagaimana kebanyakan desa yang bersentuhan langsung dengan Bukit Barisan yang membujur sepanjang pulau  Sumatera, demikian juga Binu dan juga beberapa desa lainnya di Nagari Kamang Hilir, seperti: Guguak Rang Pisang, Solok, Bancah dan Batu Baraguang. Diantara desa tersebut, desa Binu punya keunikan sendiri. Hal yang menjadi daya tarik khusus desa Binu ini, yaitu; di salah satu sudut Bukit Barisan yang ditumbuhi kayu-kayu yang tingginya mencapai belasan atau mungkin malah puluhan meter dan usianya sudah puluhan tahun tersebut terdapat komunitas Kalong yang oleh penduduk setempat disebut “kaluang”.

Adanya komunitas kalong ini baru saya ketahui sewaktu saya mengaji di Surau Binu.  Kehadiran kalong yang jumlahnya ribuan ini bisa disaksikan saat mereka bergantungan di ranting salah satu pohon yang sangat besar dan tinggi dengan cabang dan ranting begitu banyak. Karena begitu banyaknya kalong ini, daun kayu yang seharusnya tumbuh lebat di setiap ranting, akhirnya habis berguguran dan tidak tumbuh lagi. Kalong-kalong yang bergelantungan dalam posisi terbalik itupun seakan menjelma menggantikan daun. Saya tidak tahu, sejak kapan kalong ini melakukan migrasi ke tempat ini. Namun faktanya, setiap hari saat pulang mengaji sekitar pukul 5 petang hingga menjelang magrib, kami akan menyaksikan para kalong itu satu persatu mulai keluar meninggalkan pohon tempat mereka menumpang hidup, lalu beterbangan ke berbagai arah, mencari makan untuk penyambung hidupnya. Nagari Kamang yang subur dengan aneka tumbuhan dengan buah yang juga menjadi sumber penghidupan penduduknya, menjadi santapan gratis para kalong ini pada malam hari. Bila para kalong ini sudah pergi semua meninggalkan pohon tempat mereka bergantung istirahat seharian, maka tinggallah sang pohon raksasa itu bagai kayu mati dimakan usia. Terlihat jelas dari jembatan di depan surau, kayu itu meranggas dan kerontang tanpa daun, hidup segan mati tak mau. Sangat kontras dengan pepohonan lain yang berada di sekelilingnya, yang tumbuh subur rimbun menghijau sepanjang bukit barisan.

Keberadaan habitat kalong ini rupanya tidak hanya diketahui oleh warga nagari Kamang Hilir. Terbukti dengan datangnya beberapa kali tentara membawa senjata untuk berburu kalong di desa Binu ini. Sekali saya pernah membuntuti tentara ini dengan beberapa teman. Ketika sudah sampai di lokasi pohon tempat kerumunan kalong bergantungan, sambil menutup telinga  agar tidak terlalu terkejut mendengar letusan senjata saat tentara tersebut melepaskan tembakannya, kami menyaksikan begaimana tentara itu menembak kalong di pohon tinggi tersebut.

Walau kelihatannya sedang diam tertidur tergantung di ranting kayu, tapi nampaknya tidaklah mudah menembak kalong ini. Karena walaupun mereka kelihatannya tertembak, namun sang kalong tidak langsung jatuh ke tanah. Cengkeraman kukunya di ranting kayu cukup kuat untuk menahan dirinya agar tidak langsung jatuh saat kena peluru.

Saat yang paling saya senangi waktu tentara berburu kalong ini adalah, ketika satu tembakan berbunyi menggelegar, maka kalong ini beterbangan karena terkejut dan merasa terganggu jam istirahatnya.  Karena belum waktunya terbang pergi mencari makan, maka ribuan kalong ini hanya terbang berputar-putar di angkasa desa Binu ini. Karena jumlah mereka ini ribuan dan terbang serentak, maka desa Binu yang tadinya terang benderang karena masih siang, dalam sekejap berubah menjadi temaram, seperti sedang terjadi gerhana matahari. Ribuan kalong ini bagaikan tenda raksasa yang dibentangkan di desa Binu, menutup cahaya matahari siang menjelang sore, sehingga suasana menjadi teduh dan sejuk. Karena begitu banyaknya kalong yang terbang, alam pikiran kecil saya malah mengatakan; seandainya tentara itu menembakkan senjatanya tanpa harus membidik ke angkasa yang dikerumuni oleh kalong itu, saya malah punya keyakinan akan ada kalong itu yang tertembak dan akan langsung jatuh ke tanah.

Karena waktu mengaji sudah tiba, kamipun lalu meninggalkan tentara yang masih berada di arena perburuan tersebut. Saat berjalan menuju surau, kepala kami semua menengadah ke angkasa, menyaksikan kalong-kalong yang berterbangan karena tidur siang mereka terganggu.

Masa kecil yang tak terlupakan di surau Binu, dengan segala kenangan yang masih melekat hingga kini.

Kenangan Masa Mengaji di Surau Binu

Surau Binu
Surau Binu dan jembatan yang membentang di atas Batang Agam, yang saya abadikan saat pulang kampung dan dilanjutkan dengan berkelana di Ranah Minang tahun 2010.

Membaca berita tewasnya seorang pelajar MTsN Kamang di Batang Agam yang mengalir melewati Jorong Binu, Kamang Hilir, saya ikut merasa sedih atas musibah yang menimpa anggota keluarga korban tersebut. Dalam hati saya hanya bisa mendoakan, semoga almarhum diterima segala amalannya semasa hidup. Semoga dia ditempatkan di tempat terbaik disisi Allah, serta keluarga yang ditinggalkan diberi kesabaran dan kekuatan iman dalam menghadapi musibah ini.

Kenangan masa kecil.

Bagi saya sendiri, Surau Binu meninggalkan banyak kenangan. Sewaktu masih tinggal di kampung tahun 1965 hingga 1969, surau Binu adalah salah satu surau tempat saya mengaji. Surau lainnya, adalah mushalla Miftahul Ulum di Ladang Darek dan surau yang berada di belakang masjid Nurul Huda di Koto Kaciak. Terakhir, saat saya tinggal di Panti Asuhan Aisyiyah Kamang yang berada di Ampang, saya mengaji di Madrasah Ibtidaiyah yang menumpang di gedung PGAN Kamang, yang kini telah berganti nama menjadi MTsN Kamang.

Saat tinggal di kampung, sebelum masuk panti asuhan di Payakumbuh dan kemudian pindah ke Ampang, saya bolak balik tinggal di dua rumah. Rumah pertama yaitu rumah keluarga ibu di Baburai, Ladang Darek dan yang kedua rumah keluarga ayah di Karan, Guguak Rang Pisang. Saya benar-benar bebas untuk pergi dan datang kapan saja di kedua rumah itu.

Saat mengaji di surau Binu ini, sayalah satu-satunya murid yang berasal dari luar Desa Binu. Dari rumah di Baburai, saya harus berjalan kaki sendirian hampir dua kilometer setiap jam 2 siang, saat panas matahari sedang teriknya sehabis pulang sekolah di SD Hilir Lama. Berangkat dari rumah menuju Simpang Labuah, lalu belok kanan mengikuti jalan lurus ke Binu, saya biasa berjalan cepat, agar bisa sampai di surau sebelum jam masuk mengaji. Atau kalau saya sedang berada di Guguak Rang Pisang, dari Karan saya berjalan melewati luasnya bentangan sawah hingga sampai di Jembatan dan simpang tiga. Ke kiri menuju Koto Kaciak dan ke kanan jalan mendaki menuju Tarok. Di pendakian Tarok belok kanan memasuki halaman rumah Nyiak Kodoh terus melewati jalan setapak menyusuru pinggiran Agam hingga sampai di Kapalo Banda atau bendungan Batu Bajolang hingga sampai di Binu. Perjalanan berjalan kaki sejauh lebih kurang 3 kilometer.  Saat sampai di surau, teman-teman yang rumahnya di Binu telah lebih dulu berkumpul. Aktifitas sebelum jam mengaji yang selalu menjadi hiburan, adalah mandi di Agam. Demikian kami biasa menyebut Batang Agam yang mengalir di depan surau Binu itu.

Mandi di agam yang memulainya dengan melompat dari jembatan yang membentang menghubungkan desa Binu dengan desa lainnya, lalu tercebur di kedalaman air sungai 4 meter lebih saat musim hujan dan air sungai berwarna keruh tanah dan mengalir deras yang diikuti oleh pusaran air yang cukup kuat. Tapi di saat musim kemarau, tinggi permukaan air dari dasar sungai bisa hanya 2 meter atau kurang, namun airnya jernih sehingga kita bisa melihat ikan yang bermain di dasar sungai. Tapi saat itulah keasyikan mandi itu lebih terasa. Itu disebabkan karena air sungai lebih tenang, karena tertahan oleh bendungan yang berada sekitar 300 meter di hilirnya. Yang membuat kami lebih bersemangat untuk mandi adalah sensasi yang kami rasakan saat melompat dari ketinggian 4 meter dari atas jembatan ke permukaan air. Juga tingginya cipratan air ke atas saat tubuh kami tercebur dengan posisi punggung menerpa permukaan sungai. Semakin tinggi cipratan airnya semakin ramai pula sorakan atau tepuk tangan yang diterima oleh si penerjun bebas, dan itu semakin membuat kami yang lagi mandi balik lagi dan balik lagi ke atas jembatan untuk melakukan lompatan terbaik yang bisa kami lakukan. Keasyikan itu baru berhenti saat pak Labai Rukun, guru mengaji kami yang biasa kami panggil “inyiak aki” alias kakek, karena beliau memang sudah tua,  sudah tiba. Kamipun bergegas memakai baju dengan tubuh yang masih basah, lalu berlarian ke dalam surau, duduk melingkar, dilanjutkan dengan membaca ayat-ayat Al-Quran bacaan kami masing-masing. Sementara satu persatu diantara kami di panggil dan duduk di hadapan guru untuk didengarkan bacaannya, ditegur kalau salah dan dibetulkan bagaimana seharusnya kami membacanya berdasarkan tajwidnya.

Selama saya mengaji di surau Binu dan mandi di agam, belum pernah kejadian diantara kami yang hanyut. Hal ini mungkin juga disebabkan saat mandi ketika air sungai penuh di musim hujan, kami tidak pernah melawan arus air yang lagi mengalir kecang, kami mengikuti arus air, lalu pelan-pelan menepi dan naik lagi ke tanah, walau agak jauh dari tempat awal kami berenang. Tapi kalau kalau air agamnya benar-benar deras dan pusaran airnya terlihat bergulung-gulung, kami juga tidak mau menantang maut dengan menahan diri hingga air surut dan tidak begitu membahayakan kalau kami mandi dan berenang.

Mejeng sejenak di jembatan Binu. Mengabadikan surau penuh kenangan. (BDRM 2010).

Kesempurnaan itu bukanlah milikku

 

Malam…
berangkatlah kau ke peraduan
bersama bintang yang menemani
serta bulan
yang menerangi setengah hati
biarkan aku duduk disini
dalam keremangan dan sepi
sendiri
merenung
tentang mereka yang menghindar
jauh, menghilang dan tak lagi menyapa
ataupun yang dekat namun membuang muka
ah
aku tau diri
kesempurnaan
yang dulu mungkin sempat mereka bayangkan
ternyata bukanlah milikku

Malam
bila kau pun ingin turut menghindar
pergilah
biarkanku disini
dalam kegelapan mencekam
aku hanya berharap
semoga hatiku tak ikut hitam
tanpa cahaya

02092017

Idul Fitri 1975

Azan subuh berkumandang. Membangunkan kami yang tidur di kubah besar yang berada di puncak Masjid Raya Muhammadiyah yang terletak di jalan Bundo Kanduang, persis di tengah kota Padang itu.

Aku buru-buru bangun, membenahi pakaian dan memasukkannya ke dalam kantong plastik. Setelah itu keluar dari kubah lalu bergegas turun melewati anak tangga kayu yang menghubungkan lantai dua dan lantai tiga, dimana kubah itu berada. Sampai di lantai dua aku belok kiri masuk ruangan yang siang harinya sebagai tempat para mahasiswa Universitas Muhammadiyah belajar dan sorenya sebagai tempat mengaji murid-murid TPA. Aku belok kanan menuju tangga pintu utama yang ditutup dengan pagar besi, lalu menggeser pagar secukupnya agar bisa keluar menuju tangga utama menuju halaman masjid yang berhadapan langsung dengan jalan Bundo Kanduang. Sampai di halaman aku belok kiri, lima meter berikutnya belok kiri lagi melewati samping masjid yang bersisian dengan bagian belakang deretan toko mas yang berjejer di jalan Muhammad Yamin. Aku masuk salah satu kamar mandi yang berada di sudut masjid, lalu bergegas mandi agar tidak ketinggalan shalat subuh berjamaah.

Selesai shalat subuh dan berdoa, aku bergegas keluar dari masjid, lalu setengah berlari menuju beberapa bus yang berjejer di jalan Muhammad Yamin yang di seberangnya terdapat terminal oplet Pasar Goan Hoat.

Aku menaiki bus ANS, bus pertama yang pagi itu berangkat menuju Bukittinggi. Saat menduduki bangku bus yang masih kosong dengan nafas yang tersengal karena habis berjalan cepat, dari masjid Muhammadiyah dan juga masjid Kampung Jawa serta masjid Belakang Tangsi, suara takbir terdengar bersahutan. Sambil bergumam mengiringi takbir menyambut datangnya Idul Fitri itu, dalam hati aku berdoa agar bus segera berangkat, dan berharap pula bisa mengikuti shalat Idul Fitri di kampungku Kamang, 12 km dari kota Bukittinggi atau 109 km dari kota Padang.

Doaku rupanya dikabulkan Allah, karena tak lama kemudian bus mulai berjalan. Menyusuri jalan Muhammad Yamin di mana saat itu terdapat kantor mingguan Singgalang yang kemudian menjadi surat kabar harian, tak lama kemudian bus belok kanan menuju jalan Pemuda, melewati terminal bus Lintas Andalas yang pagi itu masih terlihat sepi. Lepas jalan Pemuda bus memasuki jalan Damar di mana terdapat harian Haluan, tempat aku pernah magang selama 4 tahun. Awal aku mengenal dan hidup di lingkungan persurat kabaran, wartawan atau media massa dengan segala lika-likunya.

Lepas dari jalan Damar dengan segala kenangan yang melekat di hati, bus kami melaju memasuki jalan Veteran, Purus Atas, Lolong, Ulak Karang, Air Tawar, dan Tabing. Selanjutnya meninggalkan kota Padang dan memasuki Kabupaen Padang Pariaman. Menyambut datangnya matahari pagi 1 Syawal bus berjalan diiringi takbir yang sambung menyambung di sepanjang jalan yang kami lewati.

Melewati jalan yang kami lalui, dengan bibir yang senantiasa mengikuti alunan takbir, namun dalam hati ada kecamuk yang mengharu biru dan dada terasa sesak. Bayangan kedua orang tua yang telah tiada, serta saudara yang berserakan dengan nasibnya masing-masing yang aku tidak tahu entah dimana beradanya, membuat aku saat itu terasa asing, bagai layang-layang putus yang tidak tahu dimana akan tersangkutnya.

Setelah melewati jalanan yang cukup datar sejak dari Padang, lepas dari Kayu Tanam, bus yang aku tumpangi mulai memasuki kawasan Lembah Anai. Di sebelah kiri kami terdapat tebing yang tinggi dan sebelah kanan kami jurang yang dalam namun semakin dangkal begitu mendekati lokasi air mancur, di dasarnya terdapat sungai mengalirkan air yang berasal dari air mancur Batang Anai. Lebatnya hutan bukit barisan di sekeliling Lembah Anai serta embun pagi yang menyusup masuk ke dalam bus, membuat hawa di dalam bus lebih dingin dari sebelumnya, apalagi pas melewati air mancur yang berada disebelah kiri jalan yang jaraknya hanya sekitar 10 meter dari badan jalan, percikan air yang terjun bebas dari ketinggian Bukit Barisan itu menguap dan ikut menyusup ke dalam bus yang membawa aku. Dingin, membuat aku semakin bersedekap sambil memeluk kantong plastik berisi pakaian yang akan aku kenakan selama di kampung.

Begitu bus melewati Air Mancur Batang Anai yang mengucurkan air dari bukit setinggi sekitar 35 meter, bus melewati kolong jembatan kereta api yang membentang di atas Lembah Anai. Jalur kereta api peninggalan Belanda yang menghubungkan kota Padang dan Padang Panjang, lalu ke Timur melewati Bukittinggi dan berakhir di Payakumbuh, atau dari Padang Panjang ke Selatan meleintas di sepanjang Danau Singkarak lalu melewati kota Solok dan berakhir di Sawah Lunto, dimana terdapat tambang batubara Ombilin.

Bus mulai melambat, disamping karena jalannya berliku banyak tikungan mengikuti alur Bukit Barisan, juga karena jalannya bergelombang menurun dan mendaki yang berujung pada sebuah tikungan tajam ke kanan membentuk huruf U. Bus memasuki pendakian yang paling terjal di kawasan Lembah Anai, terkenal dengan nama pendakian Silaiang. Pendakian terjal serta sempit yang panjangnya sekitar 200 meter dengan kemiringan bervarisi 30-40 derajat. Di kiri kami tebing tegak lurus cukup tinggi yang seandainya longsor, pasti akan menimbun bus dan segenap penumpang yang ada di dalamnya, sementara di sebelah kanan jurang dalam menganga seakan menunggu mangsa dan siap menelan apa saja dan siapa saja yang tergelincir ke sana. Keadaan sekitar yang masih samar-samar membuat jantung berdebar lebih cepat dari sebelumnya saat mata memandang ke kedalaman jurang yang masih diselimuti kabut dan embun pagi. Saat berpapasan dengan truk dengan gardan ganda, kecepatan bus semakin melambat lagi, karena saat bersisian, jarak kedua kendaraan itu hanya sekitar sejengkal. Semua kendaraan yang melewati pendakian itu maksimal hanya bisa melaju pada kecepatan 15 sampai 20 km/jam, baik kendaraan yang menurun apalagi yang mendaki, kecuali kendaraan kecil seperti sedan atau jeep, itu juga kalau tidak ada kendaraan lain yang searah atau berlawanan arah

Setelah melewati Lembah Anai yang berselimut embun pagi serta pendakian Silaiang yang membuat sport jantung, matahari menyambut kami dari balik pepohonan Bukit Barisan saat memasuki Silaiang Atas. Satu persatu kami mulai melewati rumah penduduk yang tidak jauh dari pinggir jalan, memasuki
perkampungan yang menandakan bahwa kami telah memasuki kota Padang Panjang. Jalanan yang tadinya sepi mulai berangsur ramai. Warga di sekitar jalan yang dilewati bus satu persatu mulai keluar rumah dengan pakaian terbaik mereka. Menuju masjid atau lapangan tempat diadakannya shalat Idul Fitri.

Semakin dekat bus ke tengah kota Padang Panjang, semakin ramai warga yang keluar rumah. Yang perempuan memakai tilakung (mukena) berwarna putih. Tidak semuanya baru, namun terlihat bersih dan licin oleh seterika. Sementara yang laki-laki memakai peci dan sarung. Salah satu keunikan cara orang Minang memakai sarung adalah gulungan sarungnya yang berada di bagian luar dan baju di bagian dalam, kecuali mereka yang memakai jas. Jasnya berada di luar menutup gulungan sarung bagian samping dan belakang. Kecuali bagian depan, gulungan sarungnya tetap kelihatan karena jas yang mereka pakai tidak dikancingkan.

Dengan semakin ramainya warga yang berangkat ke masjid atau lapangan, hatiku semakin tidak tenang, ingin segera tiba di Bukittinggi, lalu naik oplet ke kampung dan ikut shalat Idul Fitri bersama orang sekampung.

Perjalanan menuju Bukittinggi itu adalah perjalanan yang menanjak, sehingga bus tidak bisa memacu kecepatannya, dan itu membuat hatiku semakin tak tenang. Kecepatan bus baru bisa maksimal setelah melewati Koto Baru, karena jalan mulai mendatar, malah sebagian tempat ada yang menurun karena kami telah melewati puncak tertinggi jalanan yang melintas di pinggang Gunung Singgalang itu. Walau bus telah melaju dengan kecepatan cukup tinggi, namun aku tetap was-was, karena hari makin siang, matahari telah bersinar penuh tanpa ada halangan bukit barisan lagi. Jalanan semakin ramai, diiringi suara takbir yang bersahutan. Hatiku semakin tak karuan, apalagi bila bus melewati lapangan yang mulai penuh oleh umat yang ingin melaksanakan shalat Idul Fitri, merayakan kemenangan setelah berpuasa sebulan penuh. Keyakinanku untuk bisa menunaikan shalat idul Fitri di kampung semakin menipis, tak terasa air mataku menetes. Keinginan untuk bersama kakak, adik sepupu maupun keponakan berbarengan berangkat dan shalat Idul Fitri di masjid kampung kami terancam gagal.

Bus memasuki terminal Pasar Banto, begitu bus berhenti aku bergegas turun. Penumpang yang tersisa di dalam bus hanya tinggal beberapa orang, karena kebanyakan turun di jalan, sehingga dengan cepat aku bisa turun dari bus. Aku berjalan cepat keluar terminal, melintasi jalan arah ke Payakumbuh, yang memisahkan terminal Pasar Banto dengan Pasar Bawah. Agar lebih cepat malah kadang berlari menuju terminal oplet Aua Tajungkang, melalui pasar bawah yang kosong. Sampai di terminal oplet aku tak melihat satupun oplet yang menuju ke kampungku!

Aku berdiri lemas, sementara nafasku sesak karena berlari. Dengan perasaan yang berkecamuk aku coba juga melihat kalau-kalau ada oplet yang menuju kampungku melintas di terminal itu. Tapi harapanku sia-sia. Yang semakin banyak melintas justru warga yang berjalan menuju lapangan Kantin atau masjid Tengah Sawah untuk ikut melaksanakan shalat Idul Fitri.

Dengan langkah gontai aku berjalan ke bangunan loket di pinggir terminal yang bersisian dengan rel kereta api. Dengan lesu kulihat kantong plastik yang aku jinjing. Seandainya celana lebaran yang baru selesai dijahit itu tidak hilang semalam saat aku letakkan di kantor samping masjid, mungkin saat itu aku bisa bersama-sama warga Bukittinggi pergi ke lapangan untuk ikut melaksanakan shalat Idul Fitri. Godaan menonton film India di Lapangan Imam Bonjol, Padang bersama teman, membuat aku harus kehilangan celana lebaran yang baru diambil di tukang jahit Pasar Raya. Sementara yang aku kenakan sekarang adalah celana lusuh yang usianya sudah sekian tahun.

Aku bersandar di dinding bagian dalam loket. Untuk menghindari tatapan dari orang yang lewat dengan pakaian baru bersama keluarganya, aku lalu menyembunyikan diri dengan duduk bersandar ke dinding. Kedua tangan memeluk kedua kakiku, kepalaku menunduk di atas lutut. Tanpa bisa kutahan airmatapun mengalir membasahi lutut tempat keningku bertumpu. Sementara suara umat melafazkan takbir bergema dari segala arah…